Pages

Kamis, 27 Januari 2011

Ingin Makmur? ‘Tinggalkan’ Masjid!!

Sudah setengah abad lebih usia republik kita tercinta ini. Namun, kesejahteraan rakyat yang menjadi cita – cita bangsa ini sampai sekarang belum bisa terwujud sepenuhnya. Sebagaimana kita ketahui kemakmuran hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. Sedangkan sebagian besar lainnya masih harus berkutat dengan kemiskinan dan kebodohan.

Sesungguhnya apa yang salah dari negeri ini? Bukankah negeri kita tercinta ini sudah sangat kaya dengan sumber daya alam? Belum lagi budaya kita yang beragam merupakan hal istimewa yang tidak bisa ditemukan di negara lain. Selain itu, kita juga masih mempunyai modal yang sangat kuat untuk mewujudkan kemakmuran. Modal itu tak lain adalah 90% lebih penduduk Indonesia adalah muslim! Umat yang telah dijanjikan kemenangan dunia akhirat oleh Allah SWT dan dibekali dengan dua senjata paling mutakhir sepanjang jaman : Al-Qur’an dan Hadist.

Dengan jumlah orang Islam yang sedemikian banyak, tidak sepatutnya Indonesia menyandang status sebagai negara dunia ketiga. Bukankah Nabi SAW pernah bersabda “Tidak akan bisa dikalahkan 12.000 pasukan muslim”. Lalu apa yang salah dengan ratusan juta muslimin di Indonesia?

Jawabannya bukan terletak pada kurang taatnya umat muslimin di Indonesia. Karena telah begitu banyak Masjid, surau, taman pendidikan Al-Qur’an (TPA), dan sekolah – sekolah islam lainnya bertebaran di hampir seluruh pelosok tanah air. Di dalamnya orang – orang Islam sholat, mengaji, menghafal kitab suci, dll. Namun, cukupkah hanya dengan sholat, mengaji, dan menghafal kitab suci kita bisa memakmurkan negara? Jawabannya adalah TIDAK!

Kesalahan terbesar umat Islam, khususnya para aktivis dakwah, saat ini adalah menganut dogma bahwa Islam itu hanya ada di dalam masjid. Selama ini orang – orang yang dianggap tahu agama mengadakan kajian, ceramah, dan diskusi di dalam masjid. Memang benar sebagai umat Islam kita diwajibkan untuk ikut serta dalam memakmurkan masjid, namun selain itu kita juga diwajibkan untuk begerak mengubah nasib bangsa kita menjadi bangsa yang makmur, termasuk didalamnya terdapat juga orang – orang nonmuslim. Untuk itulah, sudah saatnya kita keluar masjid dan mulai menunaikan kewajiban berdakwah kita. Karena di luar sana sangat banyak saudara – saudara kita yang masih tersesat.

Mengutuk dan menghakimi secara sepihak orang – orang yang ada di tempat prostitusi, pusat perjudian, dan tempat – tempat maksiat lainnya adalah tindakan salah kaprah yang seringkali dilakukan oleh golongan fundamentalis. Karena justru mereka itulah yang sedang membutuhkan kasih sayang kita. Dan sudah kewajiban kita untuk menunjukkan keindahan jalan Allah kepada mereka. Jika sudah begitu, akan semakin banyak saudara – saudara kita yang bergabung dengan barisan untuk mewujudkan kemakmur bersama yang kita impi - impikan.

Selain itu, anak – anak muda yang sebagian besar berada dalam pengaruh gaya hidup hedon ala barat adalah yang harus menjadi perhatian kita. Karena pemuda – pemuda lah yang nantinya akan menjadi tulang punggung pergerakan kita menuju kemakmuran. Maka dari itu sudah selayaknya kita melakukan upaya – upaya persuasif dan penuh kasih sayang kepada mereka untuk ikut serta memikirkan masalah umat. Kita tunjukkan pada para pemuda, yang merupakan aset paling bagi bangsa ini, kewajiban seorang muslim untuk ikut serta dalam upaya memakmurkan negeri tercinta ini.

Hal – hal tersebut harus dilakukan karena masih sangat sedikit sekarang ini umat muslim yang tersadar dan peduli akan kesejahteraan rakyat. Tentunya tindakan ini harus dilakukan dengan penuh kasih sayang dan dengan menunjukkan sisi indah Islam. Bukan dengan cara kekerasan dan penghakiman secara sepihak. Karena realitanya, sebagian besar dari orang Islam di negeri kita ini tengah terbuai dengan keindahan jalan pikir masing – masing yang dipenuhi dengan materialisme, hedonisme, dan kapitalisme yang menyesatkan.
Jadi, marilah saudara – saudara seperjuanganku semua untuk melepas pikiran – pikiran kolot kita. Mari kita ‘tinggalkan’ masjid untuk mengajak saudara-saudara yang lain masuk ke dalam barisan perjuangan yang penuh dengan rasa toleransi, tentunya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran SELURUH rakyat Indonesia. Amiin Ya Rabbal Alamiin.
Wallahualam bi-shawab.

Gunung Jangan Pula Meletus


Oleh Emha Ainun Nadjib
 
KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai 
Sudrun. Apakah
kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu 
menuturkan
kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan 
menghitung nilai-
nilai kandungannya?
 
Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu 
mengalir pelan
dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. 
Karena tak
bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, 
barang
siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh 
kesengsaraan
para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, 
akan kubunuh.
 
"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding 
Aceh!," aku
menyerbu.
 
"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun 
menyambut
dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.
 
"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"
 
"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang 
rakyat Aceh
dinikahkan dengan surga."
 
"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat 
dan paling
menderita dibanding kita senegara, kenapa masih 
ditenggelamkan ke
kubangan kesengsaraan sedalam itu?"
 
"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada 
Tuhannya
sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian
ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."
 
"Termasuk Kiai...."
 
Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa 
begini. Sejak
dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.
 
"Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu 
peringatan, kenapa
tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? 
Kalau itu
ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan 
dan
ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik 
dan
militer tak berkesudahan?"
 
Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang 
lucu dari
kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.
 
"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan?
Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?" katanya.
 
Aku menjawab tegas, "Ya."
 
"Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"
 
"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa 
Indonesia akan
terus mempertanyakan."
 
"Sampai kapan?"
 
"Sampai kapan pun!"
 
"Sampai mati?"
 
"Ya!"
 
"Kapan kamu mati?"
 
"Gila!"
 
"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu 
mempertanyakan
kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di 
Aceh. Kamu
bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima 
menit
mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu 
ketiakmu. Kamu
pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa 
kamu tidak
melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada 
Tuhan. Kami
menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, 
kemudian kamu
tabuh genderang perang menantangNya!"
 
""Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk 
merundingkan hal-
hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan 
adalah
diktator dan otoriter...."
 
Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang 
seluruh
tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.
 
"Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari 
kewajiban."
 
"Kewajiban apa?"
 
"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator 
dan
otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan 
logikanya, lalu
belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan
mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang 
berhak
bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak 
menyayang
lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke 
tempat sampah.
Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang 
kepada
siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil 
siapa pun.
Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah 
yang
menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada 
benar atau
salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. 
Ainun,
Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini..."-ia meraih 
lengan
saya dan menyeret ke tembok-"Kupinjamkan dinding ini 
kepadamu...."
 
"Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.
 
"Pakailah sesukamu."
 
"Emang untuk apa?"
 
"Misalnya untuk membenturkan kepalamu...."
 
"Sinting!"
 
"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal 
pembelajaran yang
terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh."
 
Ia membawaku duduk kembali.
 
"Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib 
terbaik untuk
manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas 
bajuku.
 
"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad 
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia 
mutiara yang
memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan 
kenyang lebih
dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya 
makanan lagi.
Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya 
sendiri. Panjang
rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling 
dicintai
Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang 
kampung
Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat 
jidatnya
berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat 
panas badan
oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama 
diizinkan Tuhan
mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua 
dibiarkan oleh
Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret 
dengan kuda
sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. 
Muhammad
dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan 
sehingga
menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang 
pekerjaannya
mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik 
kalian
busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, 
menginginkan
nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian 
ditimpa
bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"
 
Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga 
saya jatuh ke
belakang.
 
"Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan 
keyakinan
bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan 
Rahim...."
 
"Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu 
tidak yakin?"
 
"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia 
Kiai ludahi."
 
"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. 
Yang
terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi."
 
"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...."
 
"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta 
sosial,
Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?"
 
"Aceh, Kiai, Aceh."
 
"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh 
dari bawah
bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang 
segera
dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat 
mengangkut mereka
langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah 
tersedia.
Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak 
poranda
kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi 
kebesaran
kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan 
menolong mereka
untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. 
Kejadian
tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala 
tema Aceh
Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat 
Aceh dan
Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang 
memenjarakan
mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka 
menyatu, sehingga
akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang 
melapangkan kedua
pihak".
 
"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para 
korban sukar
dibayangkan akan mampu tertanggungkan."
 
"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu 
orang yang
tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut 
tidak
selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai 
hidupmu.
Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan 
nyawa tidak
melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya 
adalah
keburukan? berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan 
tak berlaku
di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan 
berhenti ketika
kamu mati."
 
"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak 
berdosa,
sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng 
masyarakat
hidup nikmat sejahtera?"
 
"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng 
itu di
neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu 
mereka
memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak 
tokoh
negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera 
mengambilnya,
sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar 
biasa jahatnya
kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"
 
"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan 
saya sendiri,
Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir 
setakaran
dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."
 
"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana 
pola
perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia 
membiarkan
terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, 
ekonominya nggraras
dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri 
manusia sendiri-
maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu 
mereka
dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang 
di Aceh
bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan 
bagi mereka
yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan 
pembangkitan
bagi yang masih dibiarkan hidup."
 
"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai
ketidakadilan...."
 
"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan 
ayam menjadi
riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk 
kenikmatan
manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk 
mengetahui, ia
sedang riang dan bersyukur."
 
"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman 
sejahtera
hidupnya?"
 
"Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang 
kepada mereka
sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi 
peringatan
berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan 
manusia,
dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan 
sebelumnya.
Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin 
itu
menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi 
peringatan dalam
bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum 
mengguncangkan
jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada
kemungkinan...."
 
"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, 
karena ngeri
membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.
 
"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil 
berdiri dan
ngeloyor meninggalkan saya.
 
"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada 
Tuhan agar
beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana 
alam...."
 
"Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan 
adalah Tuhan,
kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"
 
Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.
 

Sabtu, 22 Januari 2011

Buya Hamka : Jejak Pemikiran Dan Teladan

BUYA Hamka adalah sosok cendekiawan Indonesia yang memiliki pemikiran membumi dan bervisi masa depan. Pemikirannya tidak hanya berlaku di zamannya, naman masih sangat kontekstual di masa kini. Produktivitas gagasannya di masa lalu sering menjadi inspirasi dan rujukan gagasan-gagasan kehidupan di masa kini.

Hamka mewakili sosok kepribadian yang cemerlang. Ratusan karya tulis dilahirkannya dari ketajaman memotret berbagai aspek kehidupan kemasyarakatan. Tidak mengherankan bila dalam Oxford History of Islam (2000), John L Esposito pun menyandingkannya dengan pemikir besar Muslim terkemuka.

Menafsirkan berbagai karya Hamka di masa lalu yang masih aktual di masa kini bisa didapatkan kesimpulan bahwa diri dan pemikirannya mewakili sosok cendekiawan yang, meminjam Idi Subandy Ibrahim dalam Hamka, Jembatan Dua Dunia (Pikiran Rakyat 2008), humanis-religius. ”Di Bawah Lindungan Ka`bah”, ”Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, ”Falsafah Hidup”, ”Islam dan Demokrasi”, ”Keadilan Sosial dalam Islam”, dan lainnya menunjukkan kecintaannya yang mendalam akan nilai-nilai keadilan dalam bermasyarakat dan kepekaannya terhadap realitas sosial. Karya-karya tersebut menjadi penunjuk atas keluasan cakrawala berpikir seorang Buya Hamka.

Pemikiran Buya Hamka relevan di tengah-tengah masalah keberagamaan bangsa ini yang pasang surut di tengah tarik-menarik antara konflik dan kekerasan. Keberagamaan yang tidak kontekstual dan hanya mementingkan tata cara keberagamaan formal sebagai ”substansi” beragama dan ”satu-satunya” cara terbaik beragama justru seringkali menyeret seseorang ke dalam pemikiran yang sempit. Seolah-olah kehidupan ini dihuni oleh segolongan orang yang memiliki cara beriman dan beragama yang sama persis.

Secara kontekstual, kehidupan beragama seperti adanya inilah yang menjadi fakta masyarakat. Kekerasan dan konflik kerap dipicu oleh sentimen yang dibangun melalui sempitnya cara memandang hidup dan kehidupan. Pluralitas adalah kenyataan kehidupan. Dalam konteks ini dibutuhkan pemikiran yang bisa mengayomi semua dimensi kehidupan. Penghargaan dan sikap toleran atas perbedaan jauh lebih penting dikemukakan untuk menciptakan tata kehidupan yang damai.

Tafsir atas pemikiran Buya Hamka memang beragam. Namun perbedaan tafsir di dalamnya seharusnya dikokohkan dalam kerangka memperkaya khasanah keberagamaan dari sudut pandang substansinya. Ini akan sejalan dengan semangat pemikiran Buya Hamka sebagai intelektual yang mencintai keadilan dan memandang perbedaan sebagai suatu kenyataan hidup. Untuk mendapatkan contohnya, sosok pemikiran Buya Hamka seperti di atas dapat dijumpai dalam jejak-jejak pengaruhnya kepada, misalnya, pemikiran dan kepribadian

Buya Syafii Maarif, salah seorang mantan Ketua PP Muhammadiyah yang mengaku pembentukan kepribadiannya banyak dipengaruhi olehnya. Kecintaan atas keadilan dan kemanusiaan menjadi semangat untuk memperbaiki kehidupan yang lebih damai di tengah realitas sosial yang beragam. Pribadi tangguh yang dilahirkan dari tanah Minang ini memberikan teladan untuk bersikap dewasa dan menghargai pluralisme serta mengakui perbedaan.

Perbedaan keyakinan bukan jalan atau peluang untuk saling bermusuhan. Hemat penulis, karakteristik keberimanan yang otentik seperti ini bila tidak dikembangkan justru berpeluang melahirkan keberimanan yang sempit yang menjadi jalan untuk melihat the others selalu sebagai sosok yang harus dilawan dan dimusuhi.
Keberpihakannya pada keadilan tercermin dari persahabatan antara Buya dengan Kardinal Justinus Darmoyuwono.

Kedua tokoh agama tersebut bersatu menentang kekuasaan Soeharto pada tahun 1970an yang sudah mulai menampakkan tanda-tanda otoriterismenya. Buya Hamka dan Kardinal Darmoyuwono memiliki perbedaan prinsip keagamaan tetapi justru memiliki hubungan yang sangat baik. Pada saat menyangkut masalah kebangsaan mereka bersatu menentang kekuasaan pemerintahan yang zalim. Hal itulah yang saat ini sudah minimal, saat Indonesia kehilangan tokoh-tokoh yang peduli pada masalah kebangsaan.
Saat ini tokoh-tokoh masyarakat dan elite politik kehilangan roh kerakyatan seperti yang dimiliki Buya Hamka.

Beliau adalah seseorang yang terbuka terhadap keyakinan orang lain. Selain itu, memiliki sikap bahwa manusia harus hidup berdampingan secara toleran, menghormati perbedaan, menjaga keyakinan dan menjunjung tinggi kebebasan. Pergaulan Buya melintas batas suku, bangsa, agama dan keturunan.

Kepribadiannya dicerminkan dari sikapnya yang terbuka. Buya juga membaca karya-karya sarjana Prancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud dan sebagainya. Ia seorang Muslim yang tidak harus antibarat hanya karena melihat barat dianggap terlalu banyak yang tidak sesuai dengan sikap keberagamaannya.

Ketegaran dan ketangguhan seorang cendekiawan seperti Buya Hamka inilah yang semakin jarang ditemui di tengah dunia yang instan, pragmatis dan simplifikatif. Buya adalah seorang yang berpendirian teguh memperjuangkan keadilan. Ia berani melawan kekuasaan yang zalim sehingga ia dipenjara berkali-kali. Keberaniannya sungguh-sungguh ditegakkan atas nama kebenaran dan pembelaan atas ketidakadilan.
Sikap keberagamaan yang memerankan kepedulian pada realitas sosial akan melahirkan cara beriman yang lebih terbuka dan menghargai perbedaan.

Kemajemukan adalah fakta sosial yang tak bisa diingkari. Pemikiran yang sempit akan berkecenderungan untuk membela dirinya sendiri dengan kepedulian yang sangat kecil, bahkan musnah, terhadap orang lain. Bahkan dalam segolongan sekalipun, sikap seperti ini bisa membayakan perdamaian karena apapun yang terlihat berbeda selalui disikapi sebagai musuh. Sebagai musuh, tak ada cara lain selain ditundukkan, karena ia dianggap mengganggu.

Buya Hamka sudah menyelami realitas sosial seperti ini dalam khasanah kebangaan Indonesia di masa lalu. Keterbukaannya terhadap perbedaan sekaligus meletakkan sikap dasar toleransi adalah jalan yang paling baik daripada menutup semua peluang dialog dan hidup berdampingan. Indonesia adalah bangsa yang dibangun atas dasar kesamaan nasib, bukan semata-mata kesamaan berkeimanan. Sudah selayaknya bangsa ini diolah dan dibangun dengan cara pandang yang terbuka pula.

Adapun keimanan bersifat membantu mendorong tumbuhnya semangat penghargaan ini. Apapun jenis keimanan ini sifatnya lebih individualistik dan diharapkan memberikan semangat untuk lebih arif terhadap realitas sosial yang ada. Keimanan bukan untuk melahirkan permusuhan, melainkan untuk meretas persaudaraan setiap saat. Perbedaan bukan jalan menuju peperangan, melainkan jalan menuju kedamaian yang sesungguhnya. Dan untuk itu pula perbedaan itu ada.

Buya Hamka memberikan banyak teladan kepada Indonesia sebagai bangsa di tengah-tengah realitas perbedaan yang ada. Sosok yang tangguh dan mau bersahabat dengan siapa saja yang memiliki kemanusiaan perlu dicontoh bukan hanya oleh mereka yang Muslim, melainkan siapa saja yang mengaku sebagai manusia Indonesia.

Sumbangsih pemikiran yang otentik dan kontekstual untuk kehidupan kebangsaan yang sehat itulah yang perlu digali dari sosok Buya Hamka. Menelusuri jejak-jejak pemikiran seharusnya memupuk keteladanan berpikir, bertindak dan berperilaku. Para elit politik, sosial, dan agama yang masih mengedepankan cara berpikir ”segolongan” seharusnya lebih banyak menimba pemikiran Buya Hamka.

Bangsa ini merindukan lahirnya buya-buya baru yang berani belajar dari kegagalan masa lampau dan menatap masa depan dengan landasan utama: kemanusiaan dan keadilan.

BENNY SUSETYO, adalah Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Dewan Pembina Averroes Community

Sabtu, 27 November 2010

Quote of The Day

quote of the day : banyak orang yang melihat apel jatuh, tapi hanya Newton yang bertanya "mengapa?"

Senin, 15 November 2010

KEBAHAGIAAN


Kebahagiaan…

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi,percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu

berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi,
dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta,masuk ke panti jompo hari ini.
Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal,sehingga dia harus masuk ke panti jompo.
Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi,
Dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.
Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator,
aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.
Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.
Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut.
Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal.
Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku.
Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur.
Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.
Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan.
Hanya untuk kali ini dalam hidupku.
Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank.
Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan.
Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita.
Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku.
Aku sedang menyimpannya.
*/Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:/*
*/ 1. Bebaskan hatimu dari rasa benci./*
*/ 2. Bebaskan pikiran mu dari segala kekuatiran./*
*/ 3. Hiduplah dengan sederhana./*
*/ 4. Berikan lebih banyak (give more)/*
*/ 5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less)/*


Selasa, 02 November 2010

Che Guevara

Masa kecil

Sejak usia dua tahun Che Guevara mengidap asma yang diderita sepanjang hidupnya. Karena itu keluarganya pindah ke daerah yang lebih kering, yaitu daerah Alta Gracia (Córdoba) namun kesehatannya tidak membaik. Pendidikan dasar ia dapatkan di rumah sebagian dari ibunya, Celia de la Serna. Pada usianya yang begitu muda, Che Guevara telah menjadi seorang pembaca yang lahap. Ia rajin membaca literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud yang ada di perpustakaan ayahnya. Memasuki sekolah menegah pertama (1941) di Colegio Nacional Deán Funes (Córdoba). Di sekolah ini dia menjadi yang terbaik di bidang sastra dan olahraga. Di rumahnya, Che Guevara tergerak hatinya oleh para pengungsi perang saudara Spanyol, juga oleh rentetan krisis politik yang parah di Argentina. Krisis ini memuncak di bawah pemerintahan diktator fasis kiri, Juan Peron, seorang yang ditentang Guevara. Berbagai peristiwa tertanam kuat dalam diri Guevara, ia melihat sebuah penghinaan dalam pantomim yang dilakonkan di Parlemen dengan demokrasinya. Maka muncul pulalah kebenciannya akan politisi militer beserta kaum kapitalis dan terutama kepada dolar Amerika Serikat ,yang dianggap sebagai lambang kapitalisme.
Meski demikian dia sama sekali tidak ikut dalam gerakan pelajar revolusioner. Ia hanya menunjukkan sedikit minat dalam bidang politik di Universitas Buenos Aires, (1947), tempat ia belajar ilmu kedokteran. Pada awalnya ia hanya tertarik memperdalam penyakitnya sendiri, namun kemudian dia tertarik pada penyakit kusta.

Perjalanan Che Guevara

Ia kembali ke daerah asalnya dengan sebuah keyakinan bulat atas satu hal bahwa ia tidak mau menjadi profesional kelas menengah dikarenakan keahliannya sebagai seorang spesialis kulit. Kemudian pada masa revolusi nasional ia pergi ke La Paz, Bolivia di sana ia dituduh sebagai seorang oportunis. Dari situ ia melanjutkan perjalanan ke Guatemala dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan menulis artikel arkeologi tentang reruntuhan Indian Maya dan Inca. Guatemala saat itu diperintah oleh Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang seorang sosialis. Meskipun Che telah menjadi penganut paham marxisme dan ahli sosial Lenin ia tak mau bergabung dalam Partai Komunis. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan baginya untuk menjadi tenaga medis pemerintah, oleh karena itu ia menjadi miskin. Ia tinggal bersama Hilda Gadea, penganut paham Marxis keturunan Indian lulusan pendidikan politik. Orang inilah yang memperkenalkannya kepada Nico Lopez, salah satu Letnan Fidel Castro. Di Guatemala dia melihat kerja agen CIA sebagai agen kontrarevolusi dan semakin yakin bahwa revolusi hanya dapat dilakukan dengan jaminan persenjataan. Ketika Presiden Arbenz turun jabatan, Guevara pindah ke Kota Mexico (September 1954) dan bekerja di Rumah Sakit Umum, diikuti Hilda Gadea dan Nico Lopez. Guevara bertemu dan kagum pada Raúl Castro dan Fidel Castro juga para emigran politik dan ia menyadari bahwa Fidel-lah pemimpin yang ia cari.

Bergabung dengan Fidel Castro di Kuba

Ia bergabung dengan pengikut Castro di rumah-rumah petani tempat para pejuang revolusi Kuba dilatih perang gerilya secara keras dan profesional oleh kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo, seorang pengarang “Ciento cincuenta preguntas a un guerilleo” (Seratus lima puluh pertanyaan kepada seorang gerilyawan) di Havana, tahun 1959. Bayo tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong dan Che (dalam bahasa Italia berarti teman sekamar dan teman dekat) menjadi murid kesayangannya dan menjadi pemimpin di kelas. Latihan perang di tanah pertanian membuat polisi setempat curiga dan Che beserta orang-orang Kuba tersebut ditangkap namun dilepaskan sebulan kemudian.
Pada bulan Juni 1956 ketika mereka menyerbu Kuba, Che pergi bersama mereka, pada awalnya sebagai dokter namun kemudian sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos. Ia yang paling agresif dan pandai dan paling berhasil dari semua pemimpin gerilya dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran Lenin kepada anak buahnya. Ia juga seorang yang berdisiplin kejam yang tidak sungkan-sungkan menembak orang yang ceroboh dan di arena inilah ia mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin dalam eksekusi massa pendukung fanatik presiden yang terguling Batista. Pada saat revolusi dimenangkan, Guevara merupakan orang kedua setelah Fidel Castro dalam pemerintahan baru Kuba dan yang bertanggung jawab menggiring Castro ke dalam komunisme yang menuju komunisme merdeka bukan komunisme ortodoks ala Moskwa yang dianut beberapa teman kuliahnya. Che mengorganisasi dan memimpin “Instituto Nacional de la forma Agraria”, yang menyusun hukum agraria yang isinya menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah), mendirikan Departemen Industri dan ditunjuk sebagai Presiden Bank Nasional Kuba dan menggusur orang orang komunis dari pemerintahan serta pos-pos strategis. Ia bertindak keras melawan dua ekonom Perancis yang beraliran Marxis yang dimintai nasehatnya oleh Fidel Castro dan yang menginginkan Che bertindak lebih perlahan. Che pula yang melawan para penasihat Uni Soviet. Dia mengantarkan perekonomian Kuba begitu cepat ke komunisme total, menggandakan panen dan mendiversifikasikan produksi yang ia hancurkan secara temporer.

Pernikahan Che Guevara

Pada tahun 1959, Guevara menikahi Aledia March, kemudian berdua mengunjungi Mesir, India, Jepang, Indonesia yang juga hadir pada Konfrensi Asia Afrika, Pakistan dan Yugoslavia. Sekembalinya ke Kuba ia diangkat sebagai Menteri Perindustrian, menandatangani pakta perdagangan (Februari 1960) dengan Uni Soviet yang melepaskan industri gula Kuba pada ketergantungan pasar Amerika. Ini merupakan isyarat akan kegagalannya di Kongo dan Bolivia sebuah aksioma akan sebuah kekeliruan yang tak akan terelakkan. “Tidaklah penting menunggu sampai kondisi yang memungkinkan sebuah revolusi terwujud sebab fokus instruksional dapat mewujudkannya” ucapnya dan dengan ajaran Mao Ze Dong ia percaya bahwa daerah daerah pasti membawa revolusi ke kota yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Juga pada saat ini ia menyebarkan filosofi komunisnya (diterbitkan kemudian dalam “The Socialism and Man in Cuba”, 12 Maret 1965). Ia meringkas pahamnya menjadi “Manusia dapat sungguh mencapai tingkat kemanusiaan yang sempurna ketika berproduksi tanpa dipaksa oleh kebutuhan fisiknya sehingga ia harus menjual dirinya sebagai barang dagangan”.

Konfrontasi dengan Uni Soviet

Penentangan resminya terhadap komunis Uni Soviet tampak ketika dalam organisasi untuk Solidaritas Asia Afrika di Aljazair (Februari 1965) menuduh Uni Soviet sebagai kaki tangan imperialisme dengan berdagang tak hanya dengan negara-negara blok komunis dan memberikan bantuan pada negara berkembang sosialis atas pertimbangan pengembaliannya. Ia juga menyerang pemerintahan Soviet atas kebijakan hidup bertetangga dan juga atas Revisionisme. Guevara mengadakan konferensi Tiga Benua untuk merealisasikan program revolusioner, pemberontakan, kerjasama gerilya dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Di samping itu setelah terpaksa berhubungan dengan Amerika Serikat, ia sebagai perwakilan Kuba di PBB menyerang negara-negara Amerika Utara atas keserakahan mereka dan imperialisme yang kejam di Amerika Latin.
Sikap Che yang tidak kenal kompromi pada dua negara kapitalis mendorong negara komunis untuk memaksa Castro memberhentikan Che (1965, bukan secara resmi tetapi secara nyata. Untuk beberapa bulan tempat tinggalnya dirahasiakan dan kematiannya santer diisukan. Ia berada di berbagai Negara Afrika terutama Kongo di mana dia mengadakan survei akan kemungkinan mengubah pemberontakan Kinshasa menjadi sebuah revolusi komunis dengan taktik gerilya Kuba. Ia kembali ke Kuba untuk melatih para sukarelawan untuk proyek ini dan mengirim kekuatan 120 orang Kuba ke Kongo. Anak buahnya bertempur dengan sungguh-sungguh tetapi tidak demikian halnya dengan para pemberontak Kinshasa. Mereka sia-sia saja melawan kekejaman Belgia dan ketika musim gugur 1965 Che meminta Castro untuk menarik mundur saja bantuan Kuba.

Kematian Che Guevara

Petualangan revolusioner terakhir Che adalah di Bolivia, karena ia salah memperkirakan potensi negara itu yang mengakibatkan konsekuensi yang buruk. Tertangkapnya Che oleh tentara Bolivia pada 8 Oktober 1967 adalah akhir dari segala usahanya dan hukuman tembak dijatuhkan sehari setelah itu.
Pada tanggal 12 Juli 1997 jenazahnya dikuburkan kembali dengan upacara kemiliteran di Santa Clara, di provinsi Las Villas, di mana Guevara mengalami kemenangan dalam pertempuran ketika revolusi Kuba.
Che menjadi legenda. Ia dikenang karena keganasannya, penampilannya yang romantis, gayanya yang menarik, sikapnya yang tak kenal kompromi dan penolakan atas penghormatan berlebihan atas semua reformasi murni dan pengabdiannya untuk kekejaman dan sikapnya yang flamboyan. Ia juga idola para pejuang revolusi dan bahkan kaum muda generasi tahun 1960-1970 atas tindakan revolusi yang berani yang tampak oleh jutaan orang muda sebagai satu-satunya harapan dalam perombakan lingkup borjuis kapitalisme, industri dan komunisme

Penghormatan terhadap Che Guevara

Berbagai tokoh sastra, musik dan seni telah mempersembahkan komposisinya kepada Che Guevara. Penyair Chili Pablo Neruda mempersembahkan kepadanya puisi Tristeza en la muerte de un héroe (Kesedihan karena kematian seorang pahlawan) dalam karyanya Fin del mundo (Akhir dunia) pada 1969. Pengarang Uruguay, Mario Benedetti menerbitkan pada 1967 serangkaian puisi yang dipersembahkan kepadanya dengan judul A Ras del Sueño (Pada tingkat impian). Penyanyi Carlos Puebla mempersembahkan sebuah lagu Hasta siempre comandante Che Guevara (Untuk selamanya komandan Che Guevara) dan Los Fabulosos Cadillacs, Gallo Rojo (Ayam jantan merah), yang muncul dalam album El León (Singa) pada 1991.
Sumber : wikipedia

Quote of The Day : Pintu Tuhan

Quote of the day : Saleh selalu mengajar murid-muridnya seperti ini, "Teruslah mengetuk, maka Tuhan akan membukakan pintuNya."
Suatu hari Rabi'ah mendengarnya dan berkata, "Saleh, sampai kapan kau akan menggunakan kata 'mengetuk'? Pernahkah Tuhan menutup pintuNya?"

love network

love network
love for all