Pages

Senin, 01 Agustus 2011

Tuhan Tidak Perlu Dibela

            Sarjana X baru menamatkan studi di luar negeri pulang ke tanah air. Delapan tahun ia tinggal di Negara yang tidak ada orang muslimnya sama sekali. Di sana juga tak satu pun media massa Islam mampu mencapainya. Jadi pantas sekali X terkejut ketika kembali ke tanah air. Di mana ia berada, selalu dilihatnya ekspresi kemarahan orang muslim : dalam Khotbah Jumat yang didengarnya seminggu sekali dan juga dalam majalah Islam dan pidato para mubaligh dan da’i.
                Terakhir dia mengikuti  sebuah lokakarya. Lokakarya itu diikutinya dengan bingung lantaran uraian seorang ilmuwan eksakta tingkat top, yang menolak wawasan ilmiah yang diikuti mayoritas ilmuwan seluruh dunia, dan mengajukan teori ilmu pengetahuan menurut Islam sebagai alternatif.
                Bukan penampilan alternatif itu sendiri yang merisaukan sarjana yang baru pulang itu, melainkan kepahitan pada wawasan ilmu pengetahuan modern yang terasa disana. Juga idealisasi wawasan Islam yang juga belum jelas benar apa batasnya bagi ilmuwan yang berbicara itu.
                Semakin jauh X merambah “rimba kemarahan’ kaum muslim, semakin luas dilihatnya wilayah yang dipersengketakan antara wawasan ideal  kaum muslimin dan tuntutan modernisasi. Dilihatnya wajah berang dimana-mana : di arsip proses pelarangan atas cerpen Ki Panji Kusmin, Langit Makin Mendung. Dalam desah nafas putus asa dari seorang aktivis organisasi Islam ketika X tetap saja tidak mau  tunduk pada keharusan menempatkan ‘merk Islam’ pada kedudukan tertinggi atas semua aspek kehidupan. X bahkan melihat wajah kemarahan itu dalam serangan yang tak kunjung habis terhadap ‘informasi salah’ yang ditakuti dan menghancurkan Islam. Termasuk semua jenis ekspresi diri, dari soal berpakaian hingga tari jaipongan.
                Walaupun gelar doctor diperolehnya dalam salah satu cabang dislipin ilmu-ilmu social, X masih dihadapkan pada kepusingan memberikan penilaian atas keadaan itu. Ia mampu memahami sebab-sebab munculnya gejala ‘merasa terancam selalu’ yang demikian itu. Ia mampu menerangkan dari sudut pandang ilmiah, namun ia tidak mampu menjawab bagaimana kaum muslimin sendiri menyelesaikan masalah itu. Sebab, menurut pemahamannya, gejala”keberangan” itu menyangkut aspek ajaran agama yang palig inti. Di luar kompetensinya, keluhnya dalam hati.
                Oleh karena itu diputuskan untuk pulang ke kampong asal, menemui pamannya yang menjadi kiai pesantren. Jagoan ilmi fiqh ini disegani karena pengakuan ulama lain atas ketetapan keputusan agama yang dikeluarkannya. Si ‘paman kiai’ juga merupakan perwujudan dari kesempurnaan erilaku beragama di mata orang banyak.
                Apa jawab yang diperoleh X ketika mengajukan ‘kemuskilan’ yang dihadapinya itu? “Kau sendiri yang tidak tabah, nak. Kau harus tahu semua sikap yang kau anggap kemarahan itu adalah pelaksanaan tugas amar ma’ruf nahi munkar,” ujar sang paman dengan kelembutan yang mematikan. “Seharusnya kau pun bersikap begitu, jangan lalu menyalahkan mereka.”
                Terdiam tidak dapat menjawab, X tetap tidak mmenemukan apa yang dicarinya. Orang muda ini lalu kembali ke ibukota, mencari seorang muslim cendekiawan kelas kakap, siapa tahu bias memberikan jawaban yang memuaskan hati. Dicari yang moderat, yang dianggap mampu menjembatani antara formalism agama dan tantangan dunia modern kepada agama.
                Ternyata dia lagi-lagi kecewa. “Sebenarnya kita harus bersyukur mereka masih mengemukakan gagasan alternative parsial sehingga Islam sendiri tidak dihadapkan sebagai alternative ideologis terhadap tatanan yang ada!” demikian jawaban yang diperolehnya. Dia tidak mampu mengerti mengapa kemarahan seperti itu masih lebih baik dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
                Orang muda yang satu ini tercenung tanpa mampu merumuskan apa yang seharusnya ia pikirkan. Haruskah pola pikirnya dirubah secara mendasar, mengikuti keberangan itu sendiri.
                Akhirnya, ia diajak seorang kawan seprofesi untuk menemui seorang guru tarekat. Dan disitulah ia memperoleh kepuasan. Jawabannya ternyata sederhana saja. “Allah itu maha besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaranNya. Ia maha besar karena Ia ada, apa pun yang diperbuat orang atas diriNya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya atas kekuasaan-Nya.
              “Al-Hujwiri mengatakan : Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau sudah emnjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau “ia menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang didapatkannya.”
              Kalau diikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu “dilayani”. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang ‘positif konstruktif’. Kalau gawat, cukup dengan jawaban yang mendudukkan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.
          Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan pada serangan orang. Kebenaran Allah tidak berkurang sedikitpun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun tidak juga menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.
(Tulisan Gus Dur di majalah Tempo 26 Juni 1982)

Rabu, 18 Mei 2011

NAFASKU

Aku tak pernah memandang siapapun sebagai orang lain. Entah itu orang yang memang aku kenal, orang yang sekedar lewat lalu lalang, maupun anak-anak kecil yang sedang berlari-larian penuh canda. Bukan karena aku orang yang ramah, supel, dan sebagainya. Sekali lagi bukan. Ini semua karena tak seorangpun yang menganggapku ada.
Terkadang aku merasa tak ada gunanya lagi aku bertahan hidup. Suamiku telah lama mati, dibantai oleh orang-orang kampung hanya karena pernah menerima bantuan caping dan sabit berlogo palu arit warna merah. Aku menyesal saat itu tidak bisa berbuat apa-apa. Jelas sekali tergambar dalam ingatanku saat malam terakhir kita tidur bersama. Mendengar suara-suara mencurigakan, suamiku menyuruhku lari lewat pintu belakang dengan membawa serta anakku. Ingin sekali aku menolak perintah suamiku kala itu, namun tatapan matanya yang begitu tajam seolah-olah telah mendakwaku. Aku tak punya pilihan lain. Dan sesuai garis nasib dari Tuhan, malam itu adalah kali terakhir kita bertatap muka.
Dan kemana kemanakah perginya anakku? Aku benar-benar tidak sanggup jika ada yang bertanya tentang anakku. Bertahun-tahun telah kujaga amanah terakhir suamiku, yang meskipun tidak pernah diungkapkannya namun sangat jelas kumengerti dari tatapan matanya, untuk membesarkannya. Pekerjaan apapun telah kulakukan, dan segalanya telah kujual untuk dapat menghidupinya. Tapi siapa sangka, mata merah saat dia dalam gendonganku di malam tragis itu, ternyata telah ‘membakar’ jantung dan seluruh aliran darahnya.
Tak kusangka wajah mungil yang sangat kusayangi melebihi apapun itu menyimpan dendam yang sangat mendalam. Kasih dan perhatian yang kucurahkan tak sanggup membendung trauma dan cemoohan orang-orang yang selalu membayanginya. Dan layaknya ketika tragedi itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, aku tak mampu berbuat banyak untuk melawan mereka, orang-orang ‘suci’ yang selalu menghina dan mengucilkanku. Tidak pernah jelas alasan mereka melakukan ini semua, tapi setahuku adalah karena aku istri dari seorang anggota PKI. Dan aku benar-benar menyesal, karena dendam tersebutlah yang akhirnya membunuh satu-satunya anakku.
Apalah artinya aku sekarang ini, hanya seorang janda PKI yang tinggal sebatang kara. Yang harus duduk berjam-jam menjual mainan sederhana berasal dari dua cangkang keong yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mampu menimbulkan bunyi-bunyian, yang tentunya sudah sangat sedikit sekali anak kecil yang mau meliriknya, di pelataran sebuah swalayan kecil yang modern. Swalayan yang telah menambah susah kehidupan pedagang-pedagang kecil yang tak cukup kuat melawan arus modernisasi dengan tanpa ampun merampas pelanggan-pelanggannya. Aku pun juga tidak mampu berbuat apa-apa. Siapa pula yang sudi memperhatikam orang tua sepertiku. Dengan tubuh bongkok dan kulit penuh keriput, tak kan ada yang tertarik apalagi memperjuangkan nasibku maupun nasib orang-orang sepertiku.
Kepada siapa lagi aku harus berharap? Pemerintah? Aku rasa tidak. Aku benar-benar tidak tega, karena jelas sekali mereka kini sedang kesusahan mengatasi masalah dan kepentingannya sendiri. Dan justru pemerintah lah yang dulu menyebabkan jalan hidupku menjadi tragis seperti ini. Menjadi orang asing di tengah-tengah bangsa sandiri.
Bersyukurlah aku dilahirkan sebagai orang yang sombong, yang tidak mudah untuk mengakui kekalahan. Karena hanya dengan kesombongan itulah aku tetap mempertahankan hidupku ini, tidak seperti orang-orang lain yang memilih untuk lampus. Karena jika aku bunuh diri, itu berarti aku telah kalah. Aku memilih untuk menjalani hidup seperti sekarang ini. Terinjak-injak oleh kesewenangan yang semakin merajalela. Tetapi harus aku ulangi lagi, bahwa aku tidak kalah. Karena sampai sekarang aku masih tetap hidup, tetap bernafas, mewakili nafas suami dan anakku.

Irul
Surabaya, #O-108, 26/4/11 08:07 PM

Diri Sendiri

Quote of the day : Menjadi diri sendiri mempunyai dua konsekuansi yang dramatis, semakin disukai atau semakin dibenci. ~ JRX

Tak Ingin Menjadi Dewasa

Tidak sengaja aku buka blog lama yang sudah  ga uptodate, dan menemukan postingan-postingan lama yang menurutku sangat mengharukan. Memang sangat kacau dari segi penulisan dan gramatikal,tapi aku pikir tulisan itu sangat layak untuk di re-posting di blog ini. Inilah postingan tersebut (setelah melalui proses editting) :

hwa...
kemarin malam sebenarnya adalah malam yg sangat biasa, tapi tidak tau kenapa tiba-tiba otakku (atau lebih tepatnya jiwaku) melanglang buana ke batas yang sebenarnya tidak ingin aku lewati. and in those jorney, I found a question that brings me to the sweetest memory I ever felt.
kenapa aku harus menjadi dewasa? ingin sekali rasanya bisa terus menjadi anak2, karena dengan begitu aku bisa bermanja-manja, penuh kepolosan dann kejujuran. Aku rindu sekali saat-saat seperti itu, aku rindu ayah dan ibu yang slalu ingin membahagiakanku, aku rindu ayah yang slalu menutupi ksalahanku di depan ibu.Aku rindu saat kita bertiga bersama, saat suka dan duka. Saat-sat ketika kita dibawah, juga saat-saat dimana Tuhan telah mencurahkan karunianya tanpa terputus.
Ya Allah,aku rindu saat ayah menyelimuti aku yg belum benar2 tertidur, malam yang sebenarnya tidak terlalu dingin itupun berubah menjadi sangat hangat,
Aku juga rindu ketika aku tertidur di depan tv dan ternyata saat terbangun aku sudah ada di tempat tidur dengan selimut yang terlipat rapi, ayahlah yang dengan kasih sayangnya memindahkanku, padhal waktu itu aku sudah SMA!!

Ya Allah, apakah Engkau benar-benar akan menghimpunkan kami dalam tempat yg telah Engkau janjikan? karena ssungguhnya aku bnar-benar merindukannya.
Ya Allah , sayangilah mereka, karena sesungguhnya mereka benar-benar menyayangiku.
Kalau saja mereka sekarang ada di depanku, tentu akan kupeluk mereka, ingin kumenangis di pangkuan mereka, dan tertidur manja di antara mereka, seperti dulu lagi.
Ya Allah, bisakah aku kembali ke masa2 itu lagi?
mungkinkah aku kembali kecil seperti dulu?
Ataukah Engkau akan memberikan kebahagiaan lain sbg pemggantinya?

Ya Allah, jagalah dan muliakanlah ayahq disana, karena sungguh dia telah menjaga dan memuliakanku.
Amiin.... 

HATI


                Sesungguhnya kekuatan terbesar dalam diri manusia bukan terletak pada fisik ataupun kemampuan  bermain otak. Namun kekuatan tersebut terletak di dalam hati masing-masing.
                Setiap manusia dilahirkan dengan hati yang putih dan suci. Hatilah yang bisa membuat kita tahu benar salah. Sejahat apapun manusia, walaupun sedikit, hatinya akan selalu berkata tidak ketika ia melakukan kejahatan. Namun, jika kejahatan tersebut tetap dilakukannya maka bukan berarti hatinya yang kotor. Melainkan dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi hatinya dan akhirnya hanya menuruti hawa nafsunya tanpa mendengarkan apa kata hatinya.
                Oleh sebab itu, agar kita bisa menjadi manusia yang berbudi luhur, kita harus mempelajari berbagai macam ilmu. Hal itu ditujukan agar diri kita mampu menjaga dan menuruti apa kata hati kita. Sehingga dengan begitu kita dapat membedakan benar dan salah.
                Tapi jangan sampai ilmu membuat kita lupa. Menjadikan kita Adigang, Adigung, Adiguno. Kalau sudah begitu, ilmu bukan lagi sebagaipenjaga hati, namun ilmu akan menjajah hati kita hingga tak lagi kita hiraukan lagi apa kata hati kita.
                Hidup yang sempurna adalah jika kita mampu menempatkan ilmu dan hati sesuai dengan fungsi masing-masing. Kita gunakan hati untuk merasakan suatu keadaan, lalu hati akan memerintahkan apa yang harus atau tidak boleh kita lakukan. Sedangkan ilmu adalah senjata kita untuk menuruti apa yang telah diinstruksikan hati serta untuk menjaga hati kita agar tetap berperan dalam hidup.
                Karenanya, jika kita ingin hidup bahagia dunia akhirat kita tidak boleh menolak apa kata hati kita (ojo selak karo batine).  Karena hati merupakan anugerah dari Allah SWT yang paling berharga. Allah menjadikan hati sebagai kompas dalam perjalanan hidup di dunia yang singkat ini.
                Jika kita mampu melaksanakannya, insya Allah kita akan menjadi manusia yang berbudi luhur, tahu benar dan salah, serta bertakwa kepada Allah SWT. Sehingga benarlah falsafah SH Terate yang berbunyi :
“Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan, tetapi manusia tidak dapat dikalahkan  selama manusia itu masih setia pada hatinya sendiri.”
12 Oktober 2007

Selasa, 03 Mei 2011

BAYANG



“Kau tidak akan pernah mengerti!” Bentakku  dengan sangat keras. Nafasku menderu tak beraturan, kurasakan puluhan butir keringat kaluar dari pori-pori wajahku yang tengah merah padam menahan amarah. Mataku menatap tajam ke arahnya. Benar-benar tajam, setajam dia membalas tatapannya padaku.
            “Apa kau bilang?! Tutup mulutmu, aku mengerti kamu luar dalam. Sama sekali tidak ada rahasia milikmu yang aku tidak tahu. Hidup ini memang berat, tapi apakah dengan kita bunuh diri semua masalah akan selesei?”
            Aku kehabisan kata-kata, sedikit menyesal aku memulai lagi pertengkaran ini. Selalu menimbulkan luka, luka baginya dan luka bagiku. Semua hal yang dapat melukainya selalu saja membuatku merasa sakit. Seakan telah menjadi hukum alam yang harus aku terima dan jalani. Terkadang aku menikmati keadaan ini, namun tak jarang pula aku merasa sangat menderita. Seperti yang kini tengah kurasakan.
            Entah kenapa akhir-akhir ini emosiku cepat sekali tersulut. Aku juga tidak tahu kenapa sekarang kami sering sekali bersebrangan pendapat, yang tidak jarang memicu pertikaian sperti yang baru saja terjadi.
            Namun demi mengingat kenangan dan persahabatan kita selama ini, kemarahankupun surut juga. Terbersit dalam pikiranku bahwa selama ini aku terlampau keras dan egois. Dan baru kali inilah aku dengar dia membentakku.
            “Aku minta maaf, aku berantakan.” Kataku pelan hampir tak terdengar. Tubuhku kini telah bersandar di dinding yang sedari tadi menjadi saksi bisu pertengkaran kami. Dan sekarang dinding itu pulalah yang membantuku menyangga semua beban-beban dan masalahku.
            “Tak apa. Bukankah dulu kita selalu akur? Walaupun secara mendasar sifat kita berbeda, tidak pernah kita seperti ini. Apa yang telah membuatmu menjadi sangat temperamental seperti ini?”
            “Entahlah, aku terlalu lelah untuk berpikir.”
            “Baiklah, sebaiknya kamu tidur sekarang.”
            Memang benar, tubuh dan otakku sangat lelah kali ini. Aku belum siap menerima kenyataan bahwa aku dan dia berbeda. Aku rindu dia yang dulu, yang tidak pernah membantah pendapat dan perkataanku. Entah siapa yang sebenarnya telah berubah? Aku tidak benar-benar tahu. Juga mimpi-mimpi itu, mimpi yang selalu saja muncul setiap kali aku memejamkan mata itu benar-benar menyiksaku.
            Aku rebahkan tubuh lelahku sekenanya diatas lantai, hanya kain tipis yang tidak pantas disebut karpet memisahkanku dengan dinginnya lantai keramik kos-kosan. Dan sejurus kemudian aku telah terbang ke alam mimpi. Alam dimana aku bisa benar-benar bebas menjadi diriku sendiri. Hanya disinilah aku tidak akan menemukan dirinya. Di dalam mimpi, eksistensiku benar-benar absolut. Tidak lagi berada di bawah bayang-bayangnya lagi.
            Seperti hari kemarin, suara itu datang lagi. Suara yang sama dengan mimpi-mimpiku sebelumnya. Sekian lama kucari darimana suara itu berasal,tapi sia-sia. Seperti dalam mimpi sebelumnya, tak pernah bisa kutemukan asal muasal suara itu.
            “Bagaimana? Apakah kau sudah siap menjadi dirimu sendiri?” Pertanyaan yang sama, yang tidak pernah bisa aku jawab.
            “Siapa kau?” aku berteriak ke segala arah, tak tahu dimana wujud lawan bicaraku.
            “Tidak perlu kau tahu, turuti saja apa kataku. Sudah saatnya kau berdiri sendiri. Keluarlah dari bayang-bayang orang itu!!”
            “Tidak bisa, aku tak bisa berpisah dengannya.” Jawabku lagi setengah membentak.
            “Kau bisa. bunuh dia!!”
            Suaranya begitu menggelegar. Seketika aku terbangun dan mendapati nafasku yang sedang terengah-engah. Aku rasakan tanganku tengah menggenggam sesuatu.
            “Tidak. Darimana pisau ini?” tanyaku kebingungan, tak tau darimana pisau itu berasal dan bagaimana tiba-tiba bisa ada dalam genggamanku.
            Kulihat dia sedang tertidur pulas, membuatku menjadi semakin kebingungan. Tak mungkin sanggup aku membunuhnya. Tapi aku juga tak sanggup terus-menerus tersiksa seperti ini.
            Sudah kuputuskan. Kuangkat pisau itu, dan kutatap ujungnya yang tajam dan berkilau. Kilatan cahaya yang memantul dari tajamnya pisau itu seakan telah ikut meyakinkanku. Kuarahkan tepat ujung itu ke tengah-tengah jantungku.
            “Selamat tinggal bayanganku. Aku benar-benar tidak sanggup terus-menerus berbagi tubuh denganmu. Akan kutemui Tuhan dan kuminta untuk membuatkan satu tubuh lagi untukku.” Itulah kata-kata terakhir yang kuucapkan. Dengan sangat yakin kuayunkan pisau tepat di jantungku.
            “Bodoh. Jangan lakukan itu!!” sempat kudengar teriakannya menahanku. Tapi terlambat.
***
            Di pagi yang sangat cerah, seorang anak kecil penjaja koran mulai mondar-mandir menawarkan dagangannya. Sekilas terbaca headline koran harian pagi itu ‘SEORANG PENGIDAP KEPRIBADIAN GANDA DITEMUKAN BUNUH DIRI DI KAMAR KOS’.
Irul
Surabaya, #kos, 24/4/11 02:01 PM


.

Kamis, 10 Maret 2011

Tuhan Sulastri


    Lelah. Entah sudah berapa banyak senyuman yang dilemparkannya malam ini. Bahkan lambaian tangan nakalnya pun tak mampu menarik seekor kumbang pun untuk sekedar menghisap madu dari cawan yang sejak tadi dia tawarkan. Bedak merek fanbo yang biasa dibelinya dari warung Mak Iyem juga sudah mulai luntur oleh keringat.
                Wanita setengah baya itu mulai gelisah, dilihatnya kembang-kembang lain yang lebih muda sudah mulai bergelayutan manja di pelukan mangsa-mangsanya sambil mencari tempat untuk saling bertukar madu dan racun dalam dosa. Sedangkan Sulastri, nama asli wanita itu, masih saja sendiri. Terkadang berdiri, terkadang duduk bersilang kaki untuk memamerkan bagian pahanya yang tak lagi mulus itu.
                Ditemani segelas hemaviton merah rasa anggur dan Mak Iyem, penjaga warung di lingkungan lokalisasi murahan pinggiran Jakarta, Sulastri menghabiskan malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Bukan untuk membunuh waktu seperti yang selalu dilakukan orang-orang yang lebih beruntung darinya, melainkan untuk membunuh harga dirinya sendiri agar bisa terus menghidupi dan menyekolahkan anak semata wayangnya.
                Dan nampaknya malam ini sama sekali bukan malam keberuntungan Sulastri, hingga gelasnya kosong dan kembang-kembang trotoar yang lain sudah habis “dipetik”, wanita beranak satu yang telah lama ditinggal kabur suaminya itu belum menapatkan seorang pelanggan pun. Kartu SPP anaknya yang sudah tiga bulan belum dibayarnya, beras yang sudah tinggal setengah gelas, dan bedak merek fanbonya yang sudah hampir habis mulai membuat kegelisahannya semakin menjadi-jadi.
                Dengan langkah gontai, Sulastri yang telah putus asa melangkahkan kaki meninggalkan tempat dimana dia biasa bercumbu untuk sejenak kembali ke gubug peraduan. Otaknya mulai berputar keras mencari cara agar paling tidak dapurnya masih bisa berasap esok hari. Sungguh berat beban yang dipikulnya saat ini. Bicara tentang dosa? Mungkin telah sejak lama Sulastri menghapus kata tersebut dari kamus hidupnya.
                Sorot lampu jalanan di tengah malam menjelang pagi tiba-tiba membuat Sulastri terbayang wajah perempuan bajingan yang telah membawa kabur suaminya. Entah apa yang ada di otak suaminya kala itu hingga tega meninggalkan anaknya dan membiarkan dirinya kini terjebak dalam kubangan lumpur penuh dosa. Tapi kemudian cepat-cepat Sulastri tersadar, tidak ada gunanya lagi mengingat hal tersebut, hanya menambah luka di hatinya yang sudah berlumur darah. Lagi pula dia juga sadar bahwa dia sekarang tidak ada bedanya dengan perempuan bajingan itu. Entah sudah berapa banyak suami orang yang telah tidur dengannya tiap malam.
                “Allahu Akbar – Allahu Akbar.” Suara nyaring dari Masjid megah yang tak jauh dari jalanan itu menandakan malam telah berakhir. Biasanya Sulastri tak pernah peduli dengan suara panggilan tersebut. Baginya Tuhan telah lama mati. Digantung oleh kemiskinan dan kejamnya kehidupan malam yang penuh kehinaan.
                Namun memang malam ini nampaknya memang bukan malam yang biasa bagi Sulastri. Amarah dan kebosanannya akan kerasnya kehidupan ini benar-benar telah memuncak. Di tengah gemuruh suara adzan berteriaklah Sulastri,
                “Hai Kau yang katanya Tuhan. Kemana saja kau selama ini? Kau biarkan aku tercompang-camping dan tersiksa disini! Tuhan macam apa kau ini?!”
                Seketika tubuh Sulastri terasa seperti dipeluk dengan sangat kuat. Bukan pelukan biasa karena kini dia sama sekali tak bisa bernafas. Keringat pun dalam sekejap bercucuran membasahi tubuh pelacur pinggiran yang sedang sangat ketakutan ini. Namun di tengah rasa sakit yang amat sangat itu Sulastri masih sempat mendengar suara orang yang berbisik di telinganya.
                “Aku Izrail, dan kau akan segera menemui Tuhanmu.”

Irul
Surabaya, #kos, 08/3/11 11:43 PM

love network

love network
love for all