Pages

Senin, 07 Februari 2011

Hukum Malaikat Buntung, Hukum Iblis Beruntung

Seandainya dalam institusi negara kita pemerintah dan rakyat sudah sama-sama sanggup melaksanakan ketaatan yang maksimal terhadap hukum, Anda masih boleh tertawa-tawa geli menyaksikan sejumlah kepahitan di belakangnya.

Pertama, orang yang merasa nyaman dengan maksimalitas pelaksanaan hukum itu adalah mereka yang merupakan bagian dari "masyarakat" hukum. Masyarakat hukum adalah penghuni elite dari peradaban ’modern’, tepatnya masyarakat yang merasa dan amat meyakini bahwa dirinya modern dan hidup di zaman yang ’terbaik’, yakni ’modern’.

Iseng-iseng saya pernah menemani 18 penduduk asli Pulau Waikiki, Hawai, melakukan demo ke kantor gubernuran di negara bagian (Amerika Serikat) Hawai. Mereka menuntut pengembalian Pulau Waikiki itu dari kepemilikan negara Serikat Amerika kepada mereka.

Sejak ribuan tahun silam nenek moyang mereka bertempat tinggal dan ’memiliki’ pulau itu berdasarkan hukum mereka. Sekurang-kurangnya bertempat tinggal (’jam terbang’) ribuan tahun di suatu hamparan tanah secara filosofis hukum bisa dijadikan landasan untuk memungkinkan copyright mereka atas tanah itu.

Tetapi, tuntutan mereka sangat menggelikan bagi akal sehat manusia modern, sangat bodoh secara kebudayaan modern, dan sangat melawan ’hukum’ yang sudah diberlakukan atas tanah itu, yakni ’hukum’ negara serikat Amerika.

Jadi mana yang benar?
Yang mana kebenaran sejati?

Apakah benarnya ’hukum’ modern itu benar sejati?
Penduduk asli Hawai itu bisa paralel dengan semua suku di Irian Jaya, teman-teman Dayak di hutan-hutan Kalimantan, atau kelompok masyarakat mana pun yang hidup di dunia beralamatkan di RW ’Sejarah’ RT ’Adat’. Sementara pada suatu pagi mereka bangun tidur thilang-thileng mencari "Di mana tadi sejarah saya? Adat saya". Kok tiba-tiba di luar pintu itu ada orang-orang berseragam hendak mengursusnya tentang apa yang disebut "sejarah" baru, "adat" baru, dan "hukum" baru.

Dalam konteks itu hukum modern adalah Dajjal bermata satu, bertangan satu, bertelinga satu, berhati sebelah dan berakal terbelah (growak) di tengah-tengah. Ribuan tahun orang Jawa menciptakan peradaban tempe dan pada suatu siang tiba-tiba saja tempe adalah milik orang Jepang, berkat hukum modern. Setengah mati orang Jogja, Solo, dan Pekalongan membanggakan budaya dan karya batik, sampai mendadak mereka hampir stroke mendengar bahwa batik adalah hak patennya Malaysia.

Sebuah pabrik kecap puluhan tahun sukses dan digemari konsumen, suatu hari pimpinannya diseret ke pengadilan dan dipenjarakan, dituntut oleh salah seorang karyawan yang membelot, membuat pabrik sendiri, mendaftarkannya ke lembaga hak cipta- sementara pabrik aslinya tidak pernah mendaftarkan.

Insya Allah suatu hari nanti saya akan kehilangan nama karena ada teman yang mendaftarkan Emha Ainun Nadjib sebagai hak cipta dia. Yang kasihan adalah Nabi Muhammad, telanjur tidak sempat sowan mendaftarkan namanya, sehingga tunggu saatnya beliau tak lagi diakui sebagai pemilik nama Muhammad. Yang repot kita orang Islam, setiap membaca syahadat musti kasih royalti kepada pemegang hak cipta nama Muhammad. Bayangkan, berapa duit harus kita siapkan untuk salat wajib lima kali sehari saja. Belum lagi ditambah wirid dan shalawat.

Anda jangan lantas tidak salat demi menghindari kewajiban memberi royalti. Insya Allah Tuhan juga mafhum atas kekurangan Anda. Sebab, Tuhan sendiri juga berposisi sama dengan Muhammad dan Anda. Entah kapan Tuhan akan bertamu ke kantor lembaga hak cipta untuk mendaftarkan paten nama Allah, Yehova, Sang Hyang Wenang, dsb. Tentu butuh sangat banyak biaya. Andaikan Muhammad tidak telanjur menjadi nabi terakhir, mungkin diperlukan wahyu baru yang menganjurkan agar umat Islam ketika menyebut Allah dan Muhammad cukup dalam hati, demi menghindari pemborosan royalti hak cipta.

Yang paling selamat adalah manusia yang celat atau pelat lidahnya, yang menyebut Allah dengan Awwoh dan Muhammad dengan Mamad. Itu pun kalau Awwoh dan Mamad belum didaftarkan ke lembaga hak cipta.
***
Ini sekadar iftitah, pembuka dari pembicaraan yang sangat mungkin bisa panjang tentang kelucuan hukum. Anda pasti sangat cerdas memahami judul tulisan ini, sesudah ala kadarnya membaca preambul ini.

Omong nasi musti omong beras, padi, tanah, daun, tanaman, angin, air, matahari, musim, Tuhan dan terus terus teruuus sampai tak mungkin Anda menghindar dari satu kata apa pun tatkala membicarakan satu kata yang lain. Hukum, fikih, moral, akhlaq, takwa, mahabbah…. Teruuus sampai SBY-JK turun belum akan selesai kita sebut kata demi kata, demi menguraikan sekadar satu kata.

Belum lagi kalau saya pancing dengan kalimat bahwa saya termasuk orang yang tidak peduli hukum. Ada hukum atau tidak, saya tidak akan menyakiti manusia. Ada KUHP atau tidak, saya tidak akan maling. Ada jaksa, hakim, atau tidak, saya tidak akan mencekik anak tetangga. Ada polisi, pengacara atau tidak, saya tidak akan memerkosa wanita maupun kambing betina dan apa siapa saja….
(Emha Ainun Nadjib/JawaPos/2007/PmBNetDok)

Quote of The Day : Genghis Khan

quote of the day : Bahkan Temudjin sekalipun harus berperang dengan mengorbankan darah dan air mata untuk menjemput takdirnya sebagai Genghis Khan

Matahari 10 Tahun

10 tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk mengingat kembali sebuah kenangan yang terlewat. Seperti baru kemarin rasanya saat terakhir kali aku menginjakkan kaki di kota itu. Kota yang mampu menorehkan berjuta luka dalam waktu semalam. Kota dimana sebelum malam mengerikan itu aku sudah menggantungkan mimpi yang sangat tinggi, setinggi matahari. Dan memang, akhirnya matahari itupun membakarku tanpa ampun. Undangan 10 tahun silam yang kutemukan tak sengaja saat membersihkan gudang telah membawaku kembali mengingat masa-masa itu.

Saat itu aku sungguh menikmati duniaku, aku menemukan orang-orang yang senasib sepertiku. Dibuang dari masyarakat karena dianggap sampah. “BIKIN MALU ORANG TUA!” adalah kalimat yang paling sering aku, dan mungkin ribuan orang sepertiku, dengar. Kalimat itu sungguh sangat menyakitkan. Bagaikan sebuah belati tajam yang menusuk organ vital perasaanku. Namun, karena terlalu seringnya, tusukan itupun menjadi terasa nyaman saat menghujam jantungku.

Di dalam kereta ekonomi gerbong tiga kala itu, aku berbaur dengan puluhan penumpang lain yang rela berdesak-desakan untuk pergi ke kota tujuan mereka masing-masing. Begitu pun aku, sambil memandangi surat undangan yang sudah sebulan lalu aku terima, aku mempunyai mimpi besar tentang kebebasan dan persamaan hidup. Dan, iniah momen yang kupikir sangat tepat bagiku untuk menyampaikan ide-ide yang aku simpulkan dari curahan hati sahabat-sahabatku.

Kereta itu berjalan terasa amat lambat. Tatapan aneh dari penumpang-penumpang lainnya membuatku semakin tidak nyaman. Aku merasa bagaikan seorang Yahudi yang terjebak dalam gerbong berisi orang-orang Nazi anak buah Hittler. Begitu terasing dan terancam. Tatapan sama seperti saat ayah dan kakakku mengusirku dari rumah, hanya tatapan iba dari ibuku lah yang waktu itu seakan mengatakan bahwa aku tidak sendiri. Sambil menggenggam erat undangan ‘harapan’ itu, aku mencoba untuk menahan luka. Aku memimpikan suatu hari nanti tak akan ada lagi tatapan seperti itu, karena akupun juga ciptaan Tuhan sama seperti mereka dan aku juga haus kasih sayangNya.

Dan akhirnya tiba juga aku di stasiun tujuanku. Dengan mantap kususuri jalanan kota itu. Aku tunjukkan sobekan kertas berisi alamat teman lamaku ke orang setempat yang aku temui jika aku mulai kebingungan. Dan tetap saja aku masih dapat melihat tatapan-tatapan itu disini. Bahkan aku agak sedikit takut dan ngeri ketika melihat puluhan orang berjubah di salah satu sudut jalanan itu. Entah apa yang mereka bicarakan, namun jelas sekali terlihat aroma kemarahan di wajah mereka.

Tibalah saatnya malam yang aku tunggu, di aula sebuah gedung pinggiran kota aku berkumpul dengan seratusan orang-orang yang bernasib sama sepertiku. Di tempat ini aku tak lagi merasa aneh, tak lagi kutemui tatapan-tatapan itu, tatapan ayah, tatapan penumpang kereta, dan yang paling membuatku nyaman adalah tak ada tatapan orang-orang berjubah itu.

Aku mempersiapkan diriku sebaik mungkin, mulai dari pakaian, gaya berjalan, serta catatan kecil dari apa saja yang ingin aku sampaikan nanti. Aku benar-benar berharap malam ini akan membawa perubahan. Perubahan yang selama ini aku impi-impikan. Perubahan yang didambakan yang dinanti-nanti oleh ribuan orang yang senasib denganku. Bagaikan malam yang menantikan datangnya mentari keesokan harinya, mimpi akan kebebasan dan persamaan itu tampak begitu nyata. Perubahan tampak seperti berada di depan mata.
Dan memang benar, perubahan itu memang datang. Perubahan yang bahkan lebih besar dari apa yang kuharapkan semula. Karena seketika batu-batu beterbangan di seluruh aula, bahkan tak sengaja mata ini melihat kobaran api kecil di beberapa sudut ruangan. Teriakan-teriakan suci memekakkan telinga semakin keras terdengar. Dan orang-orang berjubah itupun berkeliaran, bak tentara Jengis khan yang memporak-porandakan kota Baghdad. Kejam dan membawa kehancuran.

Sekuat tenaga aku pun lari, meninggalkan asa, mimpi, dan cita-cita tentang kebebasan terbakar bersama tumpukan batu. Aku sudah tidak menginginkan apa-apa lagi, aku hanya ingin selamat. Sekilas terbayang-bayang wajah ibu yang selalu membelaku dari kemarahan ayah. Entah kenapa aku ingin berlari secepat mungkin untuk menemuinya. Mengadukan semua yang aku alami, seperti saat makan siangku dirampas kakak kelas sewaktu SD dulu. Aku merindukan saat-saat itu.

Dan...
“Yah,ayo cepetan yah. udah ditungguin mama tuh.” Suara gadis kecil berusia 4 tahun itu bagaikan malaikat yang menjemputku dari penjara kenangan kelam itu.

Aku seakan bangun dari mimpi buruk dan mendapati diriku berada di dunia yang lebih baik. Kuletakkan kembali undangan yang berkop “KONFERENSI WARIA TINGKAT NASIONAL 2001” tersebut dan menemui istriku. Seorang wanita yang telah menolongku dari kejaran orang-orang berjubah, 10 tahun yang lalu.

Irul
Madiun, #home, 02/2/11 06:13 PM

Senin, 31 Januari 2011

Pemimpin Yang Ikhlas

Quote of The Day : komunitas yang adil dan penuh kasih sayang hanya bisa dibangun dengan pemimpin yang pengikuit yang ikhlas.

Muslim ekstrem


Yang dibutuhkan oleh penguasa dunia adalah Muslim Ekstrem, radikal, ngamukan, berkepala batu, bodoh, terbelakang, suka mengancam, hobi mengasah pedang. Islam ekstrem adalah Islam ideal bagi para penguasa dunia, sebab memang itulah senjata bumerang paling ampuh untuk mengeliminir ketakutan mereka terhadap kebenaran nilai Islam. Mosok Islam ndak ekstrem.

Yang bahaya dan ditakuti oleh penguasa bumi ini bukan Kaum Muslimin atau Ummat Islam. Yang kuat dan hebat juga bukan Ummat Islam. Tidak ada yang perlu ditakuti dari Ummat Islam. Biarpun Israel hanya sekabupaten yang bertetangga dengan sepropinsi negara-negara Islam, si kabupaten bisa berbuat apa saja.

Jangankan sekedar mengurung Yasser Arafat di dalam metoda Khondaq, jangankansekedar mengancam dan mengebom Masjidil Aqsha, sedangkan kalaupun Ka’bah di Mekah dan Masjid Nabawi diduduki oleh kumpulan pasukan-pasukan penguasa dunia – akan tidak banyak yang bisa diperbuat oleh Ummat Islam. Ummat Islam di timur tengah hidup dalam negara-negara suku yang secara ideologis dan sosiologis menyalahi prinsip universalisme-plural (rahmatan lil’alamin) yang merupakan inti ajaran Rasulullah Muhammad saaw. Ada kerajaan suku Arab Saudi, kerajaan suku Yordan, Kuwait, dlsb.

Para khotib Jum’at selalu menyatakan rasa syukur “Kita panjatkan puja dan puji kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw, yang telah membawa kita dari alam jahiliah menuju alam nur yang terang benderang…” Kalimat itu belum selesai, karena di ekornya masih ada anak kalimat “….kemudian sesudah Muhammad tiada, kita kembali ke dunia jahiliah….”

Ummat Islam Indonesia yang jumlahnya terbesar di dunia juga terbagi dalam berbagai suku dengan fanatisme, kebanggaan dan egosentrismenya masing-masing. Ada suku NU, suku Muhammadiyah, suku darul Arqam, suku PKB dan sub-sukunya, suku PPP dan sub-sukunya, suku PBB, PK dan banyak lagi. Firman Allah “syu’ub wa qaba-il” itu bukan hanya bermakna genekologis atau antropologis – tetapi juga melebar ke berbagai segmentasi sosial yang jumlahnya tak terbilang. Bahkan di dalam suku-suku Ummat Islam terdapat pula sub-suku Yahudi, Nasrani, Sekuler, Kebatinan dan macam-macam lagi – sekurang-kurangnya dalam cara pandang dan pola sikap kesejarahannya.

Sungguh mengasyikkan isi dunia ini, dan Ummat Islam di muka bumi seluruhnya atau khusus di Indonesia, dengan modal dasar kebanggaan suku – tidaklah akan mampu berbuat banyak kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Jika kekuatan di luar mereka memusuhinya, Ummat Islam akan kalah, dan jika kekuatan di luar dirinya itu bersahabat dengannya – Ummat Islam akan lebih kalah lagi. Dan kalau terhadap persepsi saya ini Ummat Islam marah, maka menjadi terbukti bahwa ternyata keadaan mental dan budaya Ummat Islam jauh lebih parah dibanding yang tergambar dalam uraian ini.

Yang ditakuti oleh dunia, sekali lagi, bukanlah Ummat Islam, melainkan kebenaran nilai-nilai Islam. Oleh karena itu nanti zaman demi zaman akan berlalu, dan jika Ummat Islam dimusuhi, lantas mereka ada yang melawan, ada yang tidak melawan dan bahkan banyak yang justru menjadi alat untuk memusuhi Islam sendiri meskipun si alat ini naik haji 19 kali dan dikenal sebagai tokoh Islam – maka para penguasa dunia itu tidak akan bisa dikalahkan oleh Ummat Islam, melainkan akan dieliminir dan ditaklukkan secara ridho oleh nilai-nilai Islam sendiri yang tumbuh diam-diam dari dalam diri mereka sendiri.

Anda tidak perlu percaya pada kata-kata saya ini tetapi juga sebaiknya tak usah tidak percaya, daripada kelak Anda mundur isin untuk mengakuinya. Sebagaimana kepada surga dan neraka Anda tidak saya tuntut untuk percaya, tetapi sebaiknya juga tak usah repot-repot tak percaya – supaya kelak kalau ada surga beneran Anda tidak malu-malu kucing untuk mendaftar masuk ke dalamnya.

Sekarang para penguasa dunia silakan berbuat semaunya kepada Ummat Islam. Ummat Islam bisa dibunuh, ditembaki, dimusnahkan dengan tidak terlalu sukar karena dari segala segi maintenance peperangan, Ummat Islam kalah mutlak. Tetapi yang tak bisa diapa-apakan adalah nilai Islam. Sebab kandungan nilai Islam tidak bisa ditembak atau dibom. Nilai Islam terletak di lubuk hati setiap orang yang memusuhinya.

Jadi kalau, umpamanya, Anda ingin menangkap saya, memenjarakan saya, membunuh saya, memberangus pekerjaan sosial saya, mengucilkan saya, menghancurkan eksistensi saya, membuang saya, membakar nama saya, menginjak-injak harga diri saya, menendang kepala saya, bahkan melabuh abu bakaran mayat saya di pantai selatan – sedikit pun Anda tidak akan mendapatkan kesulitan. Sebab saya sangat lemah. Tetapi yang tidak akan terbunuh adalah keyakinan yang saya jalani, sebab keyakinan itu juga berdomisili di dalam diri Anda sendiri.

Nilai Islam sangat ditakuti eksistensinya oleh para penguasa dunia, tetapi Ummat Islam atau Kaum Muslimin amat diperlukan oleh mereka. Para penguasa dunia sangat membutuhkan Ummat Islam, tidak akan membiarkan Ummat Islam kelaparan, tidak membiarkan Ummat Islam kehilangan tokoh serta penampilan formalnya. NU, Muhammadiyah, MUI atau apa saja, harus terus ada, jangan sampai tidak ada.

Kalau Ummat Islam sampai mengalami busung lapar dan musnah, itu akan merugikan para penguasa dunia, karena dengan demikian mereka tidak punya partner untuk menjalankan dialektika kekuasaan. Ummat Islam harus tetap eksis di muka bumi, sebab penguasa dunia membutuhkan budak dan orang-orang jajahan. Budak jangan sampai ndak makan dan loyo, sebab kalau loyo ndak bisa diperintah-perintah. Kalau kelaparan tidak enak ditempelengi.

Ummat Islam dibutuhkan keberadaannya oleh penguasa dunia, dan manfaat keberadaan Ummat Islam adalah untuk proses penghancuran dan pelenyapan nilai-nilai Islam itu sendiri. Ummat Islam dipelihara, digurui, diajari, dididik untuk memiliki cara berpikir, cara bersikap dan cara hidup yang menghancurkan nilai-nilai Islam. Dan itu gampang dilaksanakan: kiai-kiai, ulama-ulama, cendekiawan muslim, mahasiswa islam, jurnalis, budayawan seniman, warga ormas keislaman, anak-anak muda Islam dll – sangat gampang digiring menjadi pegawai penghancur nilai-nilai Islam.

Ummat Islam harus dipelihara keberadaannya, sebab mereka yang sangat efektif untuk mempermalukan nilai-nilai Islam. Kalau ada kelompok Muslimin yang membangun kesejukan, kebersamaan, demokratisasi, egaliterisasi, defeodalisasi, menegakkan cinta kasih social – jangan diberi ruang di pemberitaan media massa dan peta opinion making – sebab mereka ini kontra-produktif untuk proses mempermalukan nilai-nilai Islam.

Yang dibutuhkan oleh penguasa dunia adalah Muslim Ekstrem, radikal, ngamukan, berkepala batu, bodoh, terbelakang, suka mengancam, hobi mengasah pedang. Rumus baku di kampus, media massa dan internet adalah “Islam harus ekstrem”. Mosok Islam ndak ekstrem. Islam ekstrem adalah Islam ideal bagi para penguasa dunia, sebab memang itulah senjata bumerang paling ampuh untuk mengeliminir ketakutan mereka terhadap kebenaran nilai Islam.

Untuk menciptakan muslim ekstrem, maka harus dilaksanakan sejumlah kecurangan opini dan ketidakadilan di bidang-bidang politik, hukum, ekonomi dan kebudayaan. Kalau orang disakiti terus-menerus, pasti lama-lama ia akan menjadi keras dan gampang dipancing untuk mengamuk. Di setiap segmen social, di tempat kerja, di lingkungan birokrasi, di kampus, di kampung dan di mana pun saja – harus terus-menerus diciptakan pencitraan bahwa orang Islam itu suka menindas. Orang Islam itu mayoritas yang kejam. Meskipun kalangan Islam yang ditindas tapi opini yang dibangun harus sebaliknya.

Kalau ternyata dipancing-pancing dan dijelek-jelekkan kok orang-orang Islam itu masih saja bersabar, bersikap lembut dan merangkulkan kemesraan pluralisme – maka harus pada momentum-momentum yang berkala dan berirama harus diciptakan skenario seakan-akan ada tokoh ekstremis teroris – umpamanya Abu Bakar Baasyir — yang diupayakan untuk dihardik terus-menerus di media massa, dicari-carikan pasal untuk menangkap dan menghukumnya. 

 

oleh : Emha Ainun Najib

sumber : http://rusdimathari.wordpress.com/2008/03/05/islam%E2%80%A6ya-harus-ekstrem/

Menanam Bunga Perhatian

Dalam sebuah kunjungan ke sebuah panti jompo yang serba kecukupan, Ibu Teresa pernah memiliki pengalaman yang patut di simak. Kendati kehidupan dipanti jompo ini tergolong lebih dari cukup, semua orang tua yang tinggal disini, ketika duduk di ruangan untuk menonton tv, bukannya memandang TV, hampir semua mata menatap pintu masuk.

Alasan kenapa mereka menatap pintu masuk, karena semuanya berharap akan dikunjungi oleh anak, keluarga atau saudara yang bisa memberi mereka perhatian. Membaca pengalaman ini, saya teringat sedih ke Bapak saya yang tinggal di kampung sana. Di umurnya yang sudah berkepala sembilan, setiap sore setelah mandi, beliau selalu diminta dipapah dan disediakan kursi untuk duduk di pintu masuk rumah. Untuk kemudian, menatap setiap orang yang lewat di jalan satu persatu. Tetangga saya sebelah rumah di Bintaro Jaya juga demikian. Hampir setiap sore orang tua yang berjalan dibantu kursi roda ini, duduk di depan rumahnya sambil memandangi jalan. Tadinya, saya tidak tahu apa yang mereka fikirkan, tetapi ketika membaca pengalaman Ibu Teresa di atas, ada semacam perasaan berdosa terhadap Bapak saya di kampung, demikian juga dengan orang tua sebelah rumah. Rupanya, mereka amat rindu perhatian. Di umur-umur yang tidak lagi produktif ini, setangkai bunga perhatian adalah vitamin-vitamin kejiwaan yang amat dibutuhkan.

Yang jelas, siapapun Anda dan dimanapun Anda berada, tua muda, di kota maupun di desa, semua memerlukan perhatian orang lain. Sayangnya, banyak orang yang amat pelit untuk memberikan bunga perhatian buat orang lain. Tidak sedikit orang, hanya meminta untuk diberikan bunga terakhir. Padahal, bunga terakhir berharga tidak mahal. Bahkan, kita tidak membelinya. Dalam ruang lingkup yang lebih besar, alasan ekonomi biaya tinggi sebagai tameng ketidakmampuan dalam mensejaterakan karyawan, jauhnya jarak sosial antara atasan dengan bawahan, tingginya rasio antara gaji orang
di puncak dengan orang di bawah, teganya politisi membunuh orang untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, atau koruptor yang rela mengkorupsi dana untuk rakyat miskin, adalah rangkaian bukti yang bisa membawa saya pada kesimpulan, betapa langkanya orang dan pemimpin yang kemana-mana membawa setangkai bunga perhatian.

Memang, ada orang yang memiliki teori, bahwa kalau kita lahir dari masyarakat dan keluarga yang miskin perhatian, maka kitapun akan terbentuk menjadi manusia yang miskin perhatian juga. Inilah problemanya. Jika menunggu sampai masyarakat dan keluarga berubah, atau organisasi berubah baru kemudian individunya berubah, maka
kapan bisa terbentuk barisan manusia lengkap dengan bunga perhatian yang indah ?. Ibu Teresa tepat sekali ketika menulis: 'We must remember that love begins at home, and we must also remember that the future of humanity passes through the family.'
Ini berarti, bunga perhatian mesti mulai ditanam, dipupuk dan disemai di rumah Sebab, dari rumahlah bunga indah ini disebarkan. Kenapa mulai dari rumah, sebab masa depan kemanusiaan berjalan melalui institusi keluarga.

Bercermin dari sini, kadang saya dihinggapi perasaan berdosa. Sebab, semenjak merangkap menjadi eksekutif, konsultan, pembicara publik dan penulis, sering kali meninggalkan rumah pada hari Senen pagi dan pulang Jumat malam. Kendati setiap hari saya menelepon ke rumah, merayu isteri beberapa menit, bercanda dengan anak-anak, minta dibelikan oleh-oleh apa, dan seterusnya, tetapi tetap ada sesuatu yang kurang. Putera saya yang bungsu, sering kali meminta makan di pangkuan saya tatkala saya juga makan. Wika puteri semata wayang saya, semangat sekali setiap kali saya sampai di rumah. Adi, putera kedua saya, sering kali merengek ke supir agar diajak ikut menjemput saya di bandar udara. Semua itu, membuat perasaan berdosa dalam diri ini. Bagaimanakah saya akan menanam bunga perhatian dalam keluarga yang amat saya cintai ini?

Kadang, saya berharap memiliki waktu empat puluh delapan jam sehari. Sempat teringat petuah teman untuk meningkatkan kualitas bukan kuantitas hubungan dengan anak. Atau mengkompensasinya dengan materi. Akan tetapi, tetap tidak bisa memberikan kompensasi. Apapun bayarannya, setiap anak mendambakan papanya ikut bermain dengan mereka. Menaikkan layang-layang yang ingin diterbangkan. Menendang bola yang gawangnya mereka jaga. Menggambarkan kelinci dalam kertas yang anak-anak sediakan. Menjemput puteri saya di sekolah yang sedang sombong-sombongnya memamerkan papanya serta mobilnya, mengantar Adi berenang, menaikkan layang-layang, serta bermain game sepuasnya, atau mengajak Komang berjalan-jalan dan menjawab semua keingintahuannya, atau menemani isteri sehari penuh dan memenuhi keinginannya, adalah serangkaian mimpi yang jarang bisa saya penuhi. Serangkaian kegiatan, yang sebenarnya bisa membuat pohon bunga perhatian tumbuh di mana-mana di rumah.

Sering kali saya dibuat iri oleh tetangga yang amat rajin menemani anaknya naik sepeda berkeliling komplek. Ada juga yang setiap pagi memandikan anjing kesayangan sang anak, menuntun anak sampai gerbang sekolah, mengajari mereka naik sepeda. Lebih iri lagi, kalau di bandar udara saya bertemu seorang suami yang menggandeng isterinya dengan penuh kemesraan. Semacam lahan subur untuk bunga perhatian, bukankah akan membahagiaka sekali jika kita bekerja di sebuah organisasi yang diisi oleh manusia-manusia yang saling memperhatikan?

Perjalanan sebutir Debu


Dulu kau hanya debu, lalu menjelma menjadi makanan, sesuap di mulut ayahmu, sesuap di mulut ibumu, partikel dalam rahim ibumu, partikel dalam kandung mani ayahmu, ayah dan ibumu menikah, partikel itu dan partikel ini menyatu, lalu menjelma engkau dalam rahim ibumu, seperti telur dalam rahim ayam, dengan kehangatan tubuh ibumu, darahnya beredar di sekujur tubuhmu, kau terwujud, kau terbentuk bagai ayam di dalam telur, dalam eraman induknya sembilan bulan, sembilan hari, sembilan jam berlalu, ibumu merasakan kesakitan, kau retakkan dinding telur, kau menyembul, kau jatuh dalam buaian, matamu tidak dapat dapat melihat, telingamu tidak dapat mendengar, kakimu tidak mampu menyangga tubuhmu, tanganmu tidak dapat menggapai sesuatu, pikiranmu tidak dapat bekerja, kau tidak dapat memahami apapun, kau tidak mengenal siapapun, kau hanya tahu tiga hal ini :

Menyusu..., mengompol..., menangis...,
Seratus tahun kemudian, matamu tidak dapat melihat, telingamu tidak dapat mendengar, kakimu tidak dapat berjalan, pikiranmu tidak bekerja, kau tidak memahami apapun, kau tidak mengenal siapapun, kau tergolek di tempat tidur, kau hanya tahu bagaimana melakukan tiga hal ;
....! ....! ....!
Tiba-tiba kau mati, kau tenggelam dalam rahim bumi,
sekali lagi, kau menjelma debu, tiada apapun tersisa darimu,
kecuali bahwa kau tetap ada!
Manusia beredar seperti bumi, waktu, musim semi, seperti setiap sesuatu air, bunga, pohon,mentari, galaksi, semesta, yang berputar,
Kau bukan apa-apa, kau hanya debu, kau beredar, kau tidak menjadi apa-apa, kau hanya menjadi debu, apa yang tertinggal darimu?
Yang tertinggal hanyalah kesalehan yang kau kerjakan, yang tertinggal adalah setiap kebaikan yang kau kerjakan (untuk manusia).

“sebentuk Ka’bah : para peziarah mengelilingiya dari batu hitam ke batu hitam,
Lahirlah kehidupan tetumbuhan, dari lumut hingga beringin.
Dan hewan, dari mikroba hingga gajah,
Akhirnya manusia”

Ali Syari’ati (1933-1977)

love network

love network
love for all