Dalam sebuah kunjungan ke sebuah panti jompo yang serba kecukupan, Ibu Teresa pernah memiliki pengalaman yang patut di simak. Kendati kehidupan dipanti jompo ini tergolong lebih dari cukup, semua orang tua yang tinggal disini, ketika duduk di ruangan untuk menonton tv, bukannya memandang TV, hampir semua mata menatap pintu masuk.
Alasan kenapa mereka menatap pintu masuk, karena semuanya berharap akan dikunjungi oleh anak, keluarga atau saudara yang bisa memberi mereka perhatian. Membaca pengalaman ini, saya teringat sedih ke Bapak saya yang tinggal di kampung sana. Di umurnya yang sudah berkepala sembilan, setiap sore setelah mandi, beliau selalu diminta dipapah dan disediakan kursi untuk duduk di pintu masuk rumah. Untuk kemudian, menatap setiap orang yang lewat di jalan satu persatu. Tetangga saya sebelah rumah di Bintaro Jaya juga demikian. Hampir setiap sore orang tua yang berjalan dibantu kursi roda ini, duduk di depan rumahnya sambil memandangi jalan. Tadinya, saya tidak tahu apa yang mereka fikirkan, tetapi ketika membaca pengalaman Ibu Teresa di atas, ada semacam perasaan berdosa terhadap Bapak saya di kampung, demikian juga dengan orang tua sebelah rumah. Rupanya, mereka amat rindu perhatian. Di umur-umur yang tidak lagi produktif ini, setangkai bunga perhatian adalah vitamin-vitamin kejiwaan yang amat dibutuhkan.
Yang jelas, siapapun Anda dan dimanapun Anda berada, tua muda, di kota maupun di desa, semua memerlukan perhatian orang lain. Sayangnya, banyak orang yang amat pelit untuk memberikan bunga perhatian buat orang lain. Tidak sedikit orang, hanya meminta untuk diberikan bunga terakhir. Padahal, bunga terakhir berharga tidak mahal. Bahkan, kita tidak membelinya. Dalam ruang lingkup yang lebih besar, alasan ekonomi biaya tinggi sebagai tameng ketidakmampuan dalam mensejaterakan karyawan, jauhnya jarak sosial antara atasan dengan bawahan, tingginya rasio antara gaji orang
di puncak dengan orang di bawah, teganya politisi membunuh orang untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, atau koruptor yang rela mengkorupsi dana untuk rakyat miskin, adalah rangkaian bukti yang bisa membawa saya pada kesimpulan, betapa langkanya orang dan pemimpin yang kemana-mana membawa setangkai bunga perhatian.
Memang, ada orang yang memiliki teori, bahwa kalau kita lahir dari masyarakat dan keluarga yang miskin perhatian, maka kitapun akan terbentuk menjadi manusia yang miskin perhatian juga. Inilah problemanya. Jika menunggu sampai masyarakat dan keluarga berubah, atau organisasi berubah baru kemudian individunya berubah, maka
kapan bisa terbentuk barisan manusia lengkap dengan bunga perhatian yang indah ?. Ibu Teresa tepat sekali ketika menulis: 'We must remember that love begins at home, and we must also remember that the future of humanity passes through the family.'
Ini berarti, bunga perhatian mesti mulai ditanam, dipupuk dan disemai di rumah Sebab, dari rumahlah bunga indah ini disebarkan. Kenapa mulai dari rumah, sebab masa depan kemanusiaan berjalan melalui institusi keluarga.
Bercermin dari sini, kadang saya dihinggapi perasaan berdosa. Sebab, semenjak merangkap menjadi eksekutif, konsultan, pembicara publik dan penulis, sering kali meninggalkan rumah pada hari Senen pagi dan pulang Jumat malam. Kendati setiap hari saya menelepon ke rumah, merayu isteri beberapa menit, bercanda dengan anak-anak, minta dibelikan oleh-oleh apa, dan seterusnya, tetapi tetap ada sesuatu yang kurang. Putera saya yang bungsu, sering kali meminta makan di pangkuan saya tatkala saya juga makan. Wika puteri semata wayang saya, semangat sekali setiap kali saya sampai di rumah. Adi, putera kedua saya, sering kali merengek ke supir agar diajak ikut menjemput saya di bandar udara. Semua itu, membuat perasaan berdosa dalam diri ini. Bagaimanakah saya akan menanam bunga perhatian dalam keluarga yang amat saya cintai ini?
Kadang, saya berharap memiliki waktu empat puluh delapan jam sehari. Sempat teringat petuah teman untuk meningkatkan kualitas bukan kuantitas hubungan dengan anak. Atau mengkompensasinya dengan materi. Akan tetapi, tetap tidak bisa memberikan kompensasi. Apapun bayarannya, setiap anak mendambakan papanya ikut bermain dengan mereka. Menaikkan layang-layang yang ingin diterbangkan. Menendang bola yang gawangnya mereka jaga. Menggambarkan kelinci dalam kertas yang anak-anak sediakan. Menjemput puteri saya di sekolah yang sedang sombong-sombongnya memamerkan papanya serta mobilnya, mengantar Adi berenang, menaikkan layang-layang, serta bermain game sepuasnya, atau mengajak Komang berjalan-jalan dan menjawab semua keingintahuannya, atau menemani isteri sehari penuh dan memenuhi keinginannya, adalah serangkaian mimpi yang jarang bisa saya penuhi. Serangkaian kegiatan, yang sebenarnya bisa membuat pohon bunga perhatian tumbuh di mana-mana di rumah.
Sering kali saya dibuat iri oleh tetangga yang amat rajin menemani anaknya naik sepeda berkeliling komplek. Ada juga yang setiap pagi memandikan anjing kesayangan sang anak, menuntun anak sampai gerbang sekolah, mengajari mereka naik sepeda. Lebih iri lagi, kalau di bandar udara saya bertemu seorang suami yang menggandeng isterinya dengan penuh kemesraan. Semacam lahan subur untuk bunga perhatian, bukankah akan membahagiaka sekali jika kita bekerja di sebuah organisasi yang diisi oleh manusia-manusia yang saling memperhatikan?
Senin, 31 Januari 2011
Perjalanan sebutir Debu
Dulu kau hanya debu, lalu menjelma menjadi makanan, sesuap di mulut ayahmu, sesuap di mulut ibumu, partikel dalam rahim ibumu, partikel dalam kandung mani ayahmu, ayah dan ibumu menikah, partikel itu dan partikel ini menyatu, lalu menjelma engkau dalam rahim ibumu, seperti telur dalam rahim ayam, dengan kehangatan tubuh ibumu, darahnya beredar di sekujur tubuhmu, kau terwujud, kau terbentuk bagai ayam di dalam telur, dalam eraman induknya sembilan bulan, sembilan hari, sembilan jam berlalu, ibumu merasakan kesakitan, kau retakkan dinding telur, kau menyembul, kau jatuh dalam buaian, matamu tidak dapat dapat melihat, telingamu tidak dapat mendengar, kakimu tidak mampu menyangga tubuhmu, tanganmu tidak dapat menggapai sesuatu, pikiranmu tidak dapat bekerja, kau tidak dapat memahami apapun, kau tidak mengenal siapapun, kau hanya tahu tiga hal ini :
Menyusu..., mengompol..., menangis...,
Seratus tahun kemudian, matamu tidak dapat melihat, telingamu tidak dapat mendengar, kakimu tidak dapat berjalan, pikiranmu tidak bekerja, kau tidak memahami apapun, kau tidak mengenal siapapun, kau tergolek di tempat tidur, kau hanya tahu bagaimana melakukan tiga hal ;
....! ....! ....!
Tiba-tiba kau mati, kau tenggelam dalam rahim bumi,
sekali lagi, kau menjelma debu, tiada apapun tersisa darimu,
kecuali bahwa kau tetap ada!
Manusia beredar seperti bumi, waktu, musim semi, seperti setiap sesuatu air, bunga, pohon,mentari, galaksi, semesta, yang berputar,
Kau bukan apa-apa, kau hanya debu, kau beredar, kau tidak menjadi apa-apa, kau hanya menjadi debu, apa yang tertinggal darimu?
Yang tertinggal hanyalah kesalehan yang kau kerjakan, yang tertinggal adalah setiap kebaikan yang kau kerjakan (untuk manusia).
“sebentuk Ka’bah : para peziarah mengelilingiya dari batu hitam ke batu hitam,
Lahirlah kehidupan tetumbuhan, dari lumut hingga beringin.
Dan hewan, dari mikroba hingga gajah,
Akhirnya manusia”
Ali Syari’ati (1933-1977)
Nasehat Ali bib Abi Thalib ra
Orang yang sibuk mencari ilmu dia mencari jalan ke surga,
Dan orang yang sibuk berbuat maksiat, dia mencari jalan ke neraka.
Jadilah kamu sebaik – baiknya manusia di hadapan Allah,
Dan anggaplah kamu sejelek-jelekn manusia menurut dirimu sendiri,
Dan jadilah kamu orang yang bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.
Ada tiga hal yang meningkatkan hafalan dan menyehatkan badan,
Yaitu menggosok gigi, berpuasa, dan membaca Al-Qur’an
Ada empat amal kebaikan yang sulit dilakukan, yaitu
Memberi maaf ketika sedang marah,
Bersedekah ketika sedang ditimpa kesulitan,
Menjaga perbuatan tercela ketika sedang menyendiri,
Dan menegakkan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti.
Tidak disebut shalat yang baik tanpa kekusyukan.
Tidak disebut puasa yang baik tanpa disertai menahan diri.
Tidak disebut membaca Qur’an yang baik tanpa memperhatikan isinya.
Tidak disebut berilmu yang baik tanpa disertai sikap hati-hati.
Tidak disebut berharta yang baik tanpa disertai kedermawanan.
Tidak disebut bersaudara yang baik tanpa disertai silaturahmi.
Tidak disebut nikmat yang baik tanpa dilestarikan.
Tidak disebut doa yang baik tanpa disertai keikhlasan.
Jangan sekali-kali kamu merasa malu memberi walau sedikit,
Karena tidak memberi sama sekali pasti lebih sdikit nilainya
Bersahabatlah dengan orang-orang yang yang selalu berbuat baik,
Pasti engkau menjadi salah seorang dari mereka.
Jauhilah orang-orang yang berbuat jahat,
Pasti engkau terhindar dari kejahatan mereka.
Perlakukan sahabatmu seperti perlakuanmu terhadap keluargamu
Jika kalian ditanya sesuatu yang tidak kalian ketahui,
Janganlah malu untuk menjawab “aku tidak tahu”
Jadilah kalian seorang dermawan,
Tapi jangan jadi pemboros.
Janganlah kalian malu untuk mempelajari
Sesuatu yang memang belum kalian ketahui.
Ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus kamu jaga.
Memperkosa Surti
Tak terhitung sudah berapa banyak kendaraan berlalu melewati jembatan itu. Pemuda kurus itu terus saja menatap jalanan, begitu tenang dan hening. Kopi hangat yang sudah berjam-jam lalu dipesannya pun seakan tak pernah diliriknya, walaupun aku tahu kopi itu pun tak lagi dapat disebut hangat.
Tak biasa aku melihat pemuda itu datang sendiri, sejak pertama kali aku membuka lapak di trotoar jembatan ini untuk mempertahankan kehormatanku sebagai seorang lelaki. Aku tetap harus berjualan, walaupun kata sebagian orang – orang berdasi itu berjualan di trotoar seperti aku dan puluhan orang lainnya yang bernasib sama sepertiku adalah merusak keindahan kota. Namun, aku berani beradu pendapat tentang masalah ini. Berjualan di pinggir jembatan yang masih baru dan sepi kendaraan sama sekali tidak merusak keindahan kota, melainkan mampu menghidupkan suasana dan mencegah begal-begal jalanan beraksi.
Tapi tak pentinglah jalan hidupku yang cukup rumit dan membosankan ini. Aku lebih tertarik dengan pemuda kurus yang telah lama menjadi langgananku tanpa aku tahu namanya itu. Malam ini tidak terlalu ramai seperti biasanya. Entah kenapa sorot matanya membuatku penasaran, dia nampak begitu marah, dendam, namun juga terlihat sekali sedang menahan tangis.
Yang kuingat lima hari yang lalu dia datang ke lapakku bersama teman wanitanya seperti biasa. Usia mereka kurang lebih sama. Tak ada sesuatu yang menarik awalnya, mereka hanya memesan satu gelas kopi hangat dan sepiring mie rebus instan. Persis yang aku lakukan bersama Surti dulu. Dulu sekalii..
Teringat sekali aku akan pertemuan kami yang terahir kali di bekas gardu desa yang tak lagi terpakai. Tempat biasa kami meneguk racun asmara tanpa belas kasih berdua. Dimana tak lagi kami peduli dengan apa yang orang tua biasa menyebutnya dengan ‘dosa’. Tapi kala itu sangat berbeda. Walaupun suasanya benar-benar sama, namun tak ada lagi percumbuan diantara aku dan Surti. Wanita gemuk tapi manis itu nampak begitu lain, begitu dingin. Pagutan-pagutan yang terasa di bibir ini juga terasa tidak seperti biasanya, seluruh lenggak-lenggok tubuh dan desahan nafasnya seolah-olah ingin menggambarkan kepedihan dan penyesalan.
“Surti harap mas bisa ngerti keputusan Surti mas.”
“Tapi kenapaaa!!! Bajingan kamu Sur!” tanpa sadar terlepas saja kata-kata itu. Seketika aku berharap menjadi bisu agar kalimat itu tak pernah terucap.
Dan memang benar, itulah kalimat terakhir yang kuucapkan pada Surti. Dengan penuh amarah, kujual tanah warisan ibuku kepada makelar tanah yang lebih bajingan dari siapapun. Bahkan surti. Aku tahu bajingan itu sedang tertawa terbahak-bahak karena berhasil mendapatkan tanah yang selama ini mereka inginkan dengan harga murah. Bahkan tanah itu kujual dengan harga yang lebih murah dari yang mereka tawarkan sebelumnya.
Dan beginilah keadanku sekarang,menjadi salah satu dari ratusan orang desa yang mencari peruntungan di kota terbesar kedua di negeri ini. Di kota yang sama sekali belum pernah aku injak sebelumnya ini aku bertarung melawan nasib dan Satpol PP, sambil terus mencoba melupakan hadiah terindah yang pernah Surti berikan padaku dulu, kegadisannya.
Aku mendadak ingin menjadi sutradara atas hidupku sendiri. Mungkin aku bisa memutar rekaman ke masa lalu dan kuatur ulang agar lelaki mantan TKI itu tidak pernah menemui bapak Surti. Atau aku bisa memutar ulang adeganku saat di gubuk bekas gardu agar aku bisa menikmati pelukan tubuh Surti selama-lamanya. Atau mungkin jika aku benar-benar lemah dan tak bisa melakukan itu semua, ingin saja aku tidak melihat pemuda kurus ini. Setidaknya aku tidak akan pernah lagi mengungkit-ungkit kenangan ini.
Dan....
“Heh, goblok! Lariii!!!”
Kulihat seluruh teman-temanku berlari berhamburan. Dan tanpa bisa aku mencegah, seluruh syaraf di tubuhku ini menyuruhku untuk lari sekuat tenaga. Menembus pekat malam dengan membawa apa saja yang bisa kubawa. Tidak ada lagi Surti, makelar tanah bajingan, lelaki mantan TKI, tidak juga pemuda kurus itu. Semua telah hancur, atau lebih tepatnya dihancurkan oleh kesombongan bapak-bapak Satpol PP yang dengan gagah telah memperkosa sisa-sisa kehormatanku.
Irul
Madiun, #home 31/01/11 09:18 PM
Kamis, 27 Januari 2011
Batman Dan Mbah Gendeng
“Huh, siyal, masa’ bocor lagi sih”, ujar Batman gemas sambil menendang pintu BatMobile-nya perlahan. Meskipun kesal, ia masih cukup sadar untuk tidak melampiaskannya kepada kendaraan tercintanya, yang cicilannya belum lunas itu. Dengan susah payah, ia mendorong mobilnya ke pinggir, ke sebuah tambal ban yang kebetulan berada tidak jauh dari situ.
“Mbah Gendeng – Nambal Ban Sejak 1911”
Begitu tulisan yang tertera di atas “bengkel” kecil yang didirikan seadanya di bawah sebuah pohon beringin besar.
“Bannya bocor ya, nak?”, tanya seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Iya, mbah”, jawab Batman lesu, “sudah kedua kalinya nih. Padahal baru sekitar 5km lalu bocor dan ditambal.”
“Hmmm…”, mbah Gendeng mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai mempersiapkan peralatannya. Bak air sabun untuk memeriksa bagian ban yang bocor, dongkrak, pompa angin, dan sebagainya. “Silahkan duduk dulu aja di kursi kayu itu, nak. Biar mbah kerjakan dulu bannya.”
45 menit berlalu, Batman mulai gak sabar. Maklum, ia lagi semangat-semangatnya untuk bangkit kembali dari keterpurukannya dan ingin segera sampai ke WTC untuk membuka gerai HP. Ditambah lagi, seekor kura-kura berseragam “Bukan Express” yang tadi disalipnya kini sudah berjalan melewati tempat ia duduk. “Masa’ Batman kalah cepet ama kura-kura”, pikir Batman dalam hati. Penasaran, ia mendekati Mbah Gendeng dan mengintip kerjanya.
“Pantesan aja lama!”, sergah Batman kasar. “Lha wong kerjanya lambat banget gini! Apa gak bisa lebih cepet lagi, mbah?!”
Mbah Gendeng meletakkan ban dalam BatMobile yang sedang ia pegang dan menoleh ke arah Batman. Tatapannya yang tajam membuat Batman secara tidak sadar mundur selangkah ke belakang. Tanpa disangka, dengan tidak kalah kerasnya, Mbah Gendeng balik bertanya, “Memangnya kamu pikir pekerjaan ini tidak penting sehingga harus dikerjakan dengan terburu-buru?”
“Memang begitu, kan? Cuman nambal ban ini, apa pentingnya? Jauh lebih penting pekerjaanku yang ke sana kemari buat nyelamatin dunia dari orang jahat! Mbah tahu kan kalo aku ini Batman?!”
“Iye, terus so what gitu loh, mau situ Superman kek, Batman kek, Barack Obama kek, SBY kek, tetep aja, jangan pernah ngeremehin pekerjaan saya!”
Batman sudah akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab, namun kakek tua itu tidak mau kalah cepat dan melanjutkan kata-katanya.
“Dengarkan baik-baik, anak muda. Coba pikir. Seandainya tadi kamu dalam perjalanan untuk menyelamatkan ribuan orang dan banmu bocor, apa bukan berarti yang saya kerjakan ini tidak sama pentingnya dengan pekerjaanmu? Dengan memperbaiki ban bocormu dengan baik dan teliti, secara tidak langsung saya suda membantu kamu menyelamatkan mereka — ribuan orang itu.”
“Tidak usah muluk-muluk. Setiap ban bocor yang saya perbaiki pasti berhasil membawa pengemudinya tiba dengan selamat sampai di rumah. Coba bayangkan apabila saya melakukannya dengan asal-asalan. Bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukan?”
“Lihat ban dalammu ini”, Mbah Gendeng menyodorkan dua buah ban dalam BatMobile yang sedang ia kerjakan. “Perhatikan ini, bekas tambalan yang dilakukan oleh penambal ban sebelumnya. Kasar dan kurang kuat rekatannya. Itu sebabnya tadi ban mobilmu bocor lagi. Masih untung tidak terjadi apa-apa. Dan ini, yang ada di kanan, adalah hasil tambalan ban yang aku lakukan. Bandingkan!”
Batman tercenung. Ia memperhatikan ban dalam pada bagian yang ditunjukkan oleh Mbah Gendeng dan ternyata memang benar, pekerjaannya kurang baik. Bahkan jauh dibandingkan hasil pekerjaan Mbah Gendeng. Padahal tadi ia cukup senang dan memberi tips lebih kepada penambal ban sebelumnya karena kerjanya hanya butuh waktu 5 menit saja.
Dengan menunduk, Batman mohon maaf kepada Mbah Gendeng dan beringsut kembali ke kursi kayu untuk menunggu. Di satu sisi, ia malu terhadap apa yang telah ia lakukan, namun di sisi lain, ia gembira karena mendapat pelajaran baru tentang hidup dan juga tentang bisnis.
“Aku pasti tidak akan kalah oleh Peter Parker”, ujar Batman dalam hati sembari tersenyum.
moral cerita/bahan renungan: "Setiap pekerjaan itu penting, jangan pernah meremehkan pekerjaan orang lain sekecil apapun itu."
sumber : http://dongengmotivasi.com/batman-dan-mbah-gendeng.htm
“Mbah Gendeng – Nambal Ban Sejak 1911”
Begitu tulisan yang tertera di atas “bengkel” kecil yang didirikan seadanya di bawah sebuah pohon beringin besar.
“Bannya bocor ya, nak?”, tanya seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Iya, mbah”, jawab Batman lesu, “sudah kedua kalinya nih. Padahal baru sekitar 5km lalu bocor dan ditambal.”
“Hmmm…”, mbah Gendeng mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai mempersiapkan peralatannya. Bak air sabun untuk memeriksa bagian ban yang bocor, dongkrak, pompa angin, dan sebagainya. “Silahkan duduk dulu aja di kursi kayu itu, nak. Biar mbah kerjakan dulu bannya.”
45 menit berlalu, Batman mulai gak sabar. Maklum, ia lagi semangat-semangatnya untuk bangkit kembali dari keterpurukannya dan ingin segera sampai ke WTC untuk membuka gerai HP. Ditambah lagi, seekor kura-kura berseragam “Bukan Express” yang tadi disalipnya kini sudah berjalan melewati tempat ia duduk. “Masa’ Batman kalah cepet ama kura-kura”, pikir Batman dalam hati. Penasaran, ia mendekati Mbah Gendeng dan mengintip kerjanya.
“Pantesan aja lama!”, sergah Batman kasar. “Lha wong kerjanya lambat banget gini! Apa gak bisa lebih cepet lagi, mbah?!”
Mbah Gendeng meletakkan ban dalam BatMobile yang sedang ia pegang dan menoleh ke arah Batman. Tatapannya yang tajam membuat Batman secara tidak sadar mundur selangkah ke belakang. Tanpa disangka, dengan tidak kalah kerasnya, Mbah Gendeng balik bertanya, “Memangnya kamu pikir pekerjaan ini tidak penting sehingga harus dikerjakan dengan terburu-buru?”
“Memang begitu, kan? Cuman nambal ban ini, apa pentingnya? Jauh lebih penting pekerjaanku yang ke sana kemari buat nyelamatin dunia dari orang jahat! Mbah tahu kan kalo aku ini Batman?!”
“Iye, terus so what gitu loh, mau situ Superman kek, Batman kek, Barack Obama kek, SBY kek, tetep aja, jangan pernah ngeremehin pekerjaan saya!”
Batman sudah akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab, namun kakek tua itu tidak mau kalah cepat dan melanjutkan kata-katanya.
“Dengarkan baik-baik, anak muda. Coba pikir. Seandainya tadi kamu dalam perjalanan untuk menyelamatkan ribuan orang dan banmu bocor, apa bukan berarti yang saya kerjakan ini tidak sama pentingnya dengan pekerjaanmu? Dengan memperbaiki ban bocormu dengan baik dan teliti, secara tidak langsung saya suda membantu kamu menyelamatkan mereka — ribuan orang itu.”
“Tidak usah muluk-muluk. Setiap ban bocor yang saya perbaiki pasti berhasil membawa pengemudinya tiba dengan selamat sampai di rumah. Coba bayangkan apabila saya melakukannya dengan asal-asalan. Bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukan?”
“Lihat ban dalammu ini”, Mbah Gendeng menyodorkan dua buah ban dalam BatMobile yang sedang ia kerjakan. “Perhatikan ini, bekas tambalan yang dilakukan oleh penambal ban sebelumnya. Kasar dan kurang kuat rekatannya. Itu sebabnya tadi ban mobilmu bocor lagi. Masih untung tidak terjadi apa-apa. Dan ini, yang ada di kanan, adalah hasil tambalan ban yang aku lakukan. Bandingkan!”
Batman tercenung. Ia memperhatikan ban dalam pada bagian yang ditunjukkan oleh Mbah Gendeng dan ternyata memang benar, pekerjaannya kurang baik. Bahkan jauh dibandingkan hasil pekerjaan Mbah Gendeng. Padahal tadi ia cukup senang dan memberi tips lebih kepada penambal ban sebelumnya karena kerjanya hanya butuh waktu 5 menit saja.
Dengan menunduk, Batman mohon maaf kepada Mbah Gendeng dan beringsut kembali ke kursi kayu untuk menunggu. Di satu sisi, ia malu terhadap apa yang telah ia lakukan, namun di sisi lain, ia gembira karena mendapat pelajaran baru tentang hidup dan juga tentang bisnis.
“Aku pasti tidak akan kalah oleh Peter Parker”, ujar Batman dalam hati sembari tersenyum.
moral cerita/bahan renungan: "Setiap pekerjaan itu penting, jangan pernah meremehkan pekerjaan orang lain sekecil apapun itu."
sumber : http://dongengmotivasi.com/batman-dan-mbah-gendeng.htm
Gus Dur Lelap Dalam KenikmatanNya
Sebuah buku tentang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang ditulis budayawan Mohamad Sobary diyakini sejumlah kalangan sebagai pertanda bahwa tokoh pluralis itu tak pernah mati, kecuali cuma raganya.
Dalam peluncuran "Jejak Guru Bangsa, Mewarisi Kearifan Gus Dur" itu, sejumlah sahabat Gus Dur angkat bicara. Pengusaha Sudhamek yang mengenal Gus Dur dari dekat mengatakan, Gus Dur tak pernah meninggalkan orang-orang yang senantiasa membutuhkan inspirasi. "Jasadnya bisa pergi, tapi spirit Gus Dur akan senantiasa mengilhami," katanya.
Rohaniwan Franz Magnis Suseno melihat Gus Dur sebagai salah satu sosok terpenting pascagenerasi empat lima. Bagi Magnis, tak ada orang yang begitu peduli pada kaum minoritas seperti Gus Dur. Keberaniannya membela kaum minoritas belum tertandingi siapapun.
Djohan Effendi, sahabat Gus Dur, mengenang kembali saat-saat penting ketika keduanya berinteraksi. Djohan bercerita kenapa Gus Dur ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Hasrat Gus Dur itu, demikian Djohan, muncul setelah ada undangan dari Israel.
"Saat itu Gus Dur dan saya diundang Yitzak Rabin ke Israel. Pada waktu itu terjadi perjanjian perdamaian antara Israel dan Yordania. Kami mendengar dari pihak Israel bahwa mereka ingin sekali berdamai. Mereka bilang, hanya orang yang berperang bisa merasakan betapa berartinya suatu perdamaian. Bagi yang tak mengalami pedihnya peperangan, sulit menghayati arti damai," tutur Djohan.
Setelah mendengar suara hati dari Israel itulah, demikian Djohan bercerita, Gus Dur tergerak untuk ikut membantu terjadinya perdamaian antara Israel dan Palestina. "Tapi bagaimana bisa kita membantu kalau kita tak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Di sini lah mulai timbul keinginan Gus Dur untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel," kata Djohan.
Djohan yang pernah menyunting buku "Pergolakan Pemikiran Isam, Cacatan Harian Ahmad Wahib" itu pada hakikatnya hendak menjelaskan kepada publik latar belakang yang mendasari pemikiran Gus Dur.
Gagasan Gus Dur mengenai Indonesia perlu menjalin hubungan diplomatik dengan Israel mendapat kecaman keras. Bahkan Gus Dur sampai harus menerima tuduhan menyakitkan dari beberapa kalangan umat Islam sendiri. "Gus Dur antek Israel," kata sebagian di antara mereka.
Djohan juga berkisah tentang ide Gus Dur mencabut ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat mengenai pelarangan Partai Komunis Indonesia, yang implikasinya menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia. Karena ketetapan itu, anak-anak yang dilahirkan pada tahun enam puluhan ke atas harus menanggung ketidakadilan. Mereka direnggut haknya untuk mendapat pekerjaan karena orang tua mereka terlibat peristiwa Gerakan Tiga Puluh September (G30S/PKI).
Djohan yang paradigma berpikirnya selaras dengan Gus Dur itu juga bercerita tentang satu momen ketika dia dan Gus Dur jadi pembicara di sebuah seminar di Palembang yang berlangsung pada hari Jumat. Ketika waktu sembahyang Jumat tiba, panitia seminar bertanya: "Pak Djohan hendak shalat di mana?" Karena merasa sebagai musyafir, Djohan memilih tidak sembahyang Jumat. Tapi yang diucapkan Djohan pada penanya bukannya: "Saya musyafir". Tapi, "Saya ikut Gus Dur," ucap Djohan.
Kang Sobary mengatakan bahwa hubungannya dengan Gus Dur terlampau dekat. Meskipun dalam buku itu banyak cerita yang mengharumkan Gus Dur tapi buku itu tak sampai terjebak pada upaya memitoskannya. "Mitos tak mungkin lahir dari kedekatan seperti itu," tuturnya.
Peluncuran buku yang dipandu Najwa Shihab itu tentunya akan lebih bergemuruh seandainya ada pembicara yang menjadi musuh Gus Dur, setidaknya musuh ideologis. Soal ini, oleh Romo Magnis, dianggap tak begitu bermasalah.
"Gus Dur biasa menerima pujian dan kritik atau kecaman. Jadi tidak apa-apa kalau musuh Gus Dur diberi kesempatan bicara," kata filosof dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu.
Sobary berpendapat lain. Andai musuh Gus Dur didatangkan saat itu, pastilah orang itu akan dihabisi dalam forum. "Kasihan juga dia," katanya.
Bagi Sobary, Gus Dur adalah orang yang mau memberikan segalanya untuk siapapun yang memintanya. Ketika menjadi presiden, Gus Dur tak pernah menolak permintaan tamu-tamunya. "Ada yang minta ketemu malam hari, dilayaninya. Ini bedanya dengan presiden lainnya. Gus Dur bukan orang modern yang suka menjadwal waktu kerjanya."
Ada cerita dari orang dekat Gus Dur. Ini cerita di saat-saat Gus Dur jatuh sakit. Seorang sahabat begitu iba melihat Gus Dur terkulai di tempat tidur. Timbullah usul buat Gus Dur. Sahabat itu pun berkata: "Gus, sampeyan ini kan sering memberikan obat mujarab pada orang-orang yang sakit. Hanya dengan segelas air putih yang sampeyan beri doa-doa, mereka sembuh. Doa sampeyan untuk orang-orang itu terkabul. Kenapa sampeyan tidak berdoa minta kesembuhan pada Allah untuk sampeyan sendiri?"
Gus Dur konon tak segera menjawab. Lalu katanya: "Saya ini malu pada Allah. Saya tak mau minta-minta padanya. Allah sedang memberi saya nikmat yang luar biasa. Yang saya rasakan sekarang ini adalah nikmat. Apa lagi yang perlu saya minta dari Nya?"
Gus Dur lalu lelap--dalam kenikmatanNya. (M020/K004)
Dalam peluncuran "Jejak Guru Bangsa, Mewarisi Kearifan Gus Dur" itu, sejumlah sahabat Gus Dur angkat bicara. Pengusaha Sudhamek yang mengenal Gus Dur dari dekat mengatakan, Gus Dur tak pernah meninggalkan orang-orang yang senantiasa membutuhkan inspirasi. "Jasadnya bisa pergi, tapi spirit Gus Dur akan senantiasa mengilhami," katanya.
Rohaniwan Franz Magnis Suseno melihat Gus Dur sebagai salah satu sosok terpenting pascagenerasi empat lima. Bagi Magnis, tak ada orang yang begitu peduli pada kaum minoritas seperti Gus Dur. Keberaniannya membela kaum minoritas belum tertandingi siapapun.
Djohan Effendi, sahabat Gus Dur, mengenang kembali saat-saat penting ketika keduanya berinteraksi. Djohan bercerita kenapa Gus Dur ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Hasrat Gus Dur itu, demikian Djohan, muncul setelah ada undangan dari Israel.
"Saat itu Gus Dur dan saya diundang Yitzak Rabin ke Israel. Pada waktu itu terjadi perjanjian perdamaian antara Israel dan Yordania. Kami mendengar dari pihak Israel bahwa mereka ingin sekali berdamai. Mereka bilang, hanya orang yang berperang bisa merasakan betapa berartinya suatu perdamaian. Bagi yang tak mengalami pedihnya peperangan, sulit menghayati arti damai," tutur Djohan.
Setelah mendengar suara hati dari Israel itulah, demikian Djohan bercerita, Gus Dur tergerak untuk ikut membantu terjadinya perdamaian antara Israel dan Palestina. "Tapi bagaimana bisa kita membantu kalau kita tak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Di sini lah mulai timbul keinginan Gus Dur untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel," kata Djohan.
Djohan yang pernah menyunting buku "Pergolakan Pemikiran Isam, Cacatan Harian Ahmad Wahib" itu pada hakikatnya hendak menjelaskan kepada publik latar belakang yang mendasari pemikiran Gus Dur.
Gagasan Gus Dur mengenai Indonesia perlu menjalin hubungan diplomatik dengan Israel mendapat kecaman keras. Bahkan Gus Dur sampai harus menerima tuduhan menyakitkan dari beberapa kalangan umat Islam sendiri. "Gus Dur antek Israel," kata sebagian di antara mereka.
Djohan juga berkisah tentang ide Gus Dur mencabut ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat mengenai pelarangan Partai Komunis Indonesia, yang implikasinya menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia. Karena ketetapan itu, anak-anak yang dilahirkan pada tahun enam puluhan ke atas harus menanggung ketidakadilan. Mereka direnggut haknya untuk mendapat pekerjaan karena orang tua mereka terlibat peristiwa Gerakan Tiga Puluh September (G30S/PKI).
Djohan yang paradigma berpikirnya selaras dengan Gus Dur itu juga bercerita tentang satu momen ketika dia dan Gus Dur jadi pembicara di sebuah seminar di Palembang yang berlangsung pada hari Jumat. Ketika waktu sembahyang Jumat tiba, panitia seminar bertanya: "Pak Djohan hendak shalat di mana?" Karena merasa sebagai musyafir, Djohan memilih tidak sembahyang Jumat. Tapi yang diucapkan Djohan pada penanya bukannya: "Saya musyafir". Tapi, "Saya ikut Gus Dur," ucap Djohan.
Kang Sobary mengatakan bahwa hubungannya dengan Gus Dur terlampau dekat. Meskipun dalam buku itu banyak cerita yang mengharumkan Gus Dur tapi buku itu tak sampai terjebak pada upaya memitoskannya. "Mitos tak mungkin lahir dari kedekatan seperti itu," tuturnya.
Peluncuran buku yang dipandu Najwa Shihab itu tentunya akan lebih bergemuruh seandainya ada pembicara yang menjadi musuh Gus Dur, setidaknya musuh ideologis. Soal ini, oleh Romo Magnis, dianggap tak begitu bermasalah.
"Gus Dur biasa menerima pujian dan kritik atau kecaman. Jadi tidak apa-apa kalau musuh Gus Dur diberi kesempatan bicara," kata filosof dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu.
Sobary berpendapat lain. Andai musuh Gus Dur didatangkan saat itu, pastilah orang itu akan dihabisi dalam forum. "Kasihan juga dia," katanya.
Bagi Sobary, Gus Dur adalah orang yang mau memberikan segalanya untuk siapapun yang memintanya. Ketika menjadi presiden, Gus Dur tak pernah menolak permintaan tamu-tamunya. "Ada yang minta ketemu malam hari, dilayaninya. Ini bedanya dengan presiden lainnya. Gus Dur bukan orang modern yang suka menjadwal waktu kerjanya."
Ada cerita dari orang dekat Gus Dur. Ini cerita di saat-saat Gus Dur jatuh sakit. Seorang sahabat begitu iba melihat Gus Dur terkulai di tempat tidur. Timbullah usul buat Gus Dur. Sahabat itu pun berkata: "Gus, sampeyan ini kan sering memberikan obat mujarab pada orang-orang yang sakit. Hanya dengan segelas air putih yang sampeyan beri doa-doa, mereka sembuh. Doa sampeyan untuk orang-orang itu terkabul. Kenapa sampeyan tidak berdoa minta kesembuhan pada Allah untuk sampeyan sendiri?"
Gus Dur konon tak segera menjawab. Lalu katanya: "Saya ini malu pada Allah. Saya tak mau minta-minta padanya. Allah sedang memberi saya nikmat yang luar biasa. Yang saya rasakan sekarang ini adalah nikmat. Apa lagi yang perlu saya minta dari Nya?"
Gus Dur lalu lelap--dalam kenikmatanNya. (M020/K004)
Islam = Pemberontak
Sejarah bangsa – bangsa di dunia seperti kita ketahu telah diliputi dengan berbagai peristiwa pemberontakan. Hampir setiap negara pernah mengalami gejolak perlawanan dari kelompok – kelompok yang tidak puas dengan rezim maupun pemerintahan yang berkuasa. Ada yang berhasil, namun tak sedikit pula yang gagal dan padam begitu saja. Yang berhasil, akhirnya mampu mewujudkan ide – ide atau gagasan yang mereka cita – citakan. Dan yang gagal akhirnya harus puas menerima keadaan tidak berubah untuk selanjutnya menyimpan mimpi – mimpi mereka atau benar – benar menyerah dan membuang semua ide dan gagasan yang mereka cita – citakan.
Kata pemberontakan selama ini lebih banyak mengundang persepsi negatif. Ia sering diidentikkan dengan tindakan kekerasan, pemerasan dan bahkan sparatisme. Namun pemberontakan menurut pengertian secara umum adalah sebuah tindakan melawan kebiasaan yang tidak sesuai dengan norma – norma yang diyakini orang/golongan yang memberontak. Dengan begitu pengertian memberontak bisa menjadi lebih luas dan obyektif. Tidak saja berarti negatif namun juga bisa berarti positif. Bahkan kalau kita mau menilik sejarah, maka lebih banyak hal positif yang dihasilkan dari pemberontakan.
Revolusi Kuba, revolusi Prancis, dan revolusi Islam Iran adalah beberapa contoh pemberontakan yang berhasil meruntuhkan kekuasaan rezim yang otoriter. Bahkan Negara republik Indonesia kita tercinta ini juga lahir akibat adanya pemberontakan atas kerajaan kolonial Hindia-Belanda dan juga atas kependudukan Jepang oleh para pahlawan bangsa. Dan contoh yang belum lama terjadi di negeri ini adalah peristiwa reformasi yang merupakan puncak dari pemberontakan dari mahasiswa beserta komponan – komponen bangsa lainnya terhadap rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.
Lalu, bagaimana Islam memandang pemberontakan? Sebagaimana kita tahu Islam adalah agama yang tidak saja mengatur tata cara peribadatan saja, lebih dari itu Islam juga menguatur seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah politik, sosial, dan ekonomi. Islam tidak mengharamkan terjadinya pemberontakan, asalkan pemberontakan itu berniat baik untuk merubah keadaan menjadi lebih baik dan diridhoi Allah SWT. Bahkan sebagian besar Nabi – nabi utusa Allah dilahirkan di dunia ini sebagai seorang pemberontak seoert yang dikisahkan dalam Al-Qur’an. Beberapa contohnya adalah Nabi Ibrahim as yang memberontak kebodohan Raja Namrud penyembah berhala, Nabi Musa as yang memberontak kelaliman dan kesombongan Fir’aun, Nabi Isa as yang memberontak penguasa romawi dan rabi – rabi Yahudi yang telah berani merubah – rubah perintah Allah dan membunuh Nabi – nabi. Bahkan nabi akhir jaman, Muhammad SAW pun juga memberontak kejahiliahan bangsa arab dengan mengorbankan seluruh harta benda, bahkan nyawa sekalipun untuk menggantikan kejahiliahan tersebut dengan nilai – nilai Islam yang bisa kita rasakan sekarang ini.
Jadi, sebagai seorang muslim, kita wajib memberontak jika keadaan memang memaksa kita untuk melakukannya. Tentunya kita memberontak sesuai dengan wewenang dan peran kita masing – masing. Jangan sampai kita bersikap sewena – wena dan melanggar hukum dengan mengatas namakan agama, justru sikap seperti inilah yang harus kita tentang. Contohnya adalah jika kita hidup di tengah – tengah masyarakat penganut paham hedonisme yang senang bermewah – mewahan dan tidak peduli dengan kondisi lingkungan, maka kita wajib memberontak dengan tidak mengikuti gaya hidup mereka tersebut, setelah itu berdakwah untuk menyadarkan mereka sesuai kapasitas kita sebagai anggota masyarakat. Atau jika mungkin kita seorang pejabat sedangkan lingkungan dimana kita bertugas menganggap korupsi adalah wajar bahkan telah menjadi kebiasaan yang mendarah daging, maka kita wajib untuk melawan arus dengan tidak melakukan korupsi bagaimanapun resikonya. Selain itu kita juga wajib bekerja sama dengan pihak yang berwenang dalam upaya pemberantasan korupsi.
Lebih dari itu, pemberontakan kepada pemerintah wajib dilakukan, tentunya tidak harus dengan cara kekerasan, jika pemerintah tersebut telah melakukan pelanggaran terhadap konstitusi, seperti yang telah terjadi pada peristiwa reformasi yang meruntuhkan rezim orde baru yang sarat akan korupsi dan pengekangan kebebasan berpendapat. Namun harus diingat juga, pemberontakan haram dilakukan bahkan pantas, dan memang harus, ditumpas jika berniatan buruk dan merongrong kekuasaan pemerintah yang masih konsisten menegakkan keadilan dan memenuhi hak – hak rakyatnya. Hal ini telah dicontohkan oleh khalifah Abu Bakar yang menumpas golongan nabi palsu serta golongan orang – orang yang tidak mau membayar zakar.
Jadi, sudah saatnya sekarang ini kita menjadi pemberontak yang cerdas. Yang tidak mudah tunduk dengan buaian kenyamanan dan kenikmatan dunia, tidak mudah takut dengan ancaman pembungkaman, berani melawan arus untuk menyuarakan kebenaran, selalu berada di pihak yang tertindas, namun tetap tunduk dah patuh kepada pemerintahan yang menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan. Semoga dengan begitu kita mamou menjadi pemberontak yang diridhoi Allah SWT. Amiin Ya Rabbal Alamiin.
Wallahualam bis shawab
Langganan:
Postingan (Atom)
love network
love for all