Pages

Senin, 31 Januari 2011

Pemimpin Yang Ikhlas

Quote of The Day : komunitas yang adil dan penuh kasih sayang hanya bisa dibangun dengan pemimpin yang pengikuit yang ikhlas.

Muslim ekstrem


Yang dibutuhkan oleh penguasa dunia adalah Muslim Ekstrem, radikal, ngamukan, berkepala batu, bodoh, terbelakang, suka mengancam, hobi mengasah pedang. Islam ekstrem adalah Islam ideal bagi para penguasa dunia, sebab memang itulah senjata bumerang paling ampuh untuk mengeliminir ketakutan mereka terhadap kebenaran nilai Islam. Mosok Islam ndak ekstrem.

Yang bahaya dan ditakuti oleh penguasa bumi ini bukan Kaum Muslimin atau Ummat Islam. Yang kuat dan hebat juga bukan Ummat Islam. Tidak ada yang perlu ditakuti dari Ummat Islam. Biarpun Israel hanya sekabupaten yang bertetangga dengan sepropinsi negara-negara Islam, si kabupaten bisa berbuat apa saja.

Jangankan sekedar mengurung Yasser Arafat di dalam metoda Khondaq, jangankansekedar mengancam dan mengebom Masjidil Aqsha, sedangkan kalaupun Ka’bah di Mekah dan Masjid Nabawi diduduki oleh kumpulan pasukan-pasukan penguasa dunia – akan tidak banyak yang bisa diperbuat oleh Ummat Islam. Ummat Islam di timur tengah hidup dalam negara-negara suku yang secara ideologis dan sosiologis menyalahi prinsip universalisme-plural (rahmatan lil’alamin) yang merupakan inti ajaran Rasulullah Muhammad saaw. Ada kerajaan suku Arab Saudi, kerajaan suku Yordan, Kuwait, dlsb.

Para khotib Jum’at selalu menyatakan rasa syukur “Kita panjatkan puja dan puji kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw, yang telah membawa kita dari alam jahiliah menuju alam nur yang terang benderang…” Kalimat itu belum selesai, karena di ekornya masih ada anak kalimat “….kemudian sesudah Muhammad tiada, kita kembali ke dunia jahiliah….”

Ummat Islam Indonesia yang jumlahnya terbesar di dunia juga terbagi dalam berbagai suku dengan fanatisme, kebanggaan dan egosentrismenya masing-masing. Ada suku NU, suku Muhammadiyah, suku darul Arqam, suku PKB dan sub-sukunya, suku PPP dan sub-sukunya, suku PBB, PK dan banyak lagi. Firman Allah “syu’ub wa qaba-il” itu bukan hanya bermakna genekologis atau antropologis – tetapi juga melebar ke berbagai segmentasi sosial yang jumlahnya tak terbilang. Bahkan di dalam suku-suku Ummat Islam terdapat pula sub-suku Yahudi, Nasrani, Sekuler, Kebatinan dan macam-macam lagi – sekurang-kurangnya dalam cara pandang dan pola sikap kesejarahannya.

Sungguh mengasyikkan isi dunia ini, dan Ummat Islam di muka bumi seluruhnya atau khusus di Indonesia, dengan modal dasar kebanggaan suku – tidaklah akan mampu berbuat banyak kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Jika kekuatan di luar mereka memusuhinya, Ummat Islam akan kalah, dan jika kekuatan di luar dirinya itu bersahabat dengannya – Ummat Islam akan lebih kalah lagi. Dan kalau terhadap persepsi saya ini Ummat Islam marah, maka menjadi terbukti bahwa ternyata keadaan mental dan budaya Ummat Islam jauh lebih parah dibanding yang tergambar dalam uraian ini.

Yang ditakuti oleh dunia, sekali lagi, bukanlah Ummat Islam, melainkan kebenaran nilai-nilai Islam. Oleh karena itu nanti zaman demi zaman akan berlalu, dan jika Ummat Islam dimusuhi, lantas mereka ada yang melawan, ada yang tidak melawan dan bahkan banyak yang justru menjadi alat untuk memusuhi Islam sendiri meskipun si alat ini naik haji 19 kali dan dikenal sebagai tokoh Islam – maka para penguasa dunia itu tidak akan bisa dikalahkan oleh Ummat Islam, melainkan akan dieliminir dan ditaklukkan secara ridho oleh nilai-nilai Islam sendiri yang tumbuh diam-diam dari dalam diri mereka sendiri.

Anda tidak perlu percaya pada kata-kata saya ini tetapi juga sebaiknya tak usah tidak percaya, daripada kelak Anda mundur isin untuk mengakuinya. Sebagaimana kepada surga dan neraka Anda tidak saya tuntut untuk percaya, tetapi sebaiknya juga tak usah repot-repot tak percaya – supaya kelak kalau ada surga beneran Anda tidak malu-malu kucing untuk mendaftar masuk ke dalamnya.

Sekarang para penguasa dunia silakan berbuat semaunya kepada Ummat Islam. Ummat Islam bisa dibunuh, ditembaki, dimusnahkan dengan tidak terlalu sukar karena dari segala segi maintenance peperangan, Ummat Islam kalah mutlak. Tetapi yang tak bisa diapa-apakan adalah nilai Islam. Sebab kandungan nilai Islam tidak bisa ditembak atau dibom. Nilai Islam terletak di lubuk hati setiap orang yang memusuhinya.

Jadi kalau, umpamanya, Anda ingin menangkap saya, memenjarakan saya, membunuh saya, memberangus pekerjaan sosial saya, mengucilkan saya, menghancurkan eksistensi saya, membuang saya, membakar nama saya, menginjak-injak harga diri saya, menendang kepala saya, bahkan melabuh abu bakaran mayat saya di pantai selatan – sedikit pun Anda tidak akan mendapatkan kesulitan. Sebab saya sangat lemah. Tetapi yang tidak akan terbunuh adalah keyakinan yang saya jalani, sebab keyakinan itu juga berdomisili di dalam diri Anda sendiri.

Nilai Islam sangat ditakuti eksistensinya oleh para penguasa dunia, tetapi Ummat Islam atau Kaum Muslimin amat diperlukan oleh mereka. Para penguasa dunia sangat membutuhkan Ummat Islam, tidak akan membiarkan Ummat Islam kelaparan, tidak membiarkan Ummat Islam kehilangan tokoh serta penampilan formalnya. NU, Muhammadiyah, MUI atau apa saja, harus terus ada, jangan sampai tidak ada.

Kalau Ummat Islam sampai mengalami busung lapar dan musnah, itu akan merugikan para penguasa dunia, karena dengan demikian mereka tidak punya partner untuk menjalankan dialektika kekuasaan. Ummat Islam harus tetap eksis di muka bumi, sebab penguasa dunia membutuhkan budak dan orang-orang jajahan. Budak jangan sampai ndak makan dan loyo, sebab kalau loyo ndak bisa diperintah-perintah. Kalau kelaparan tidak enak ditempelengi.

Ummat Islam dibutuhkan keberadaannya oleh penguasa dunia, dan manfaat keberadaan Ummat Islam adalah untuk proses penghancuran dan pelenyapan nilai-nilai Islam itu sendiri. Ummat Islam dipelihara, digurui, diajari, dididik untuk memiliki cara berpikir, cara bersikap dan cara hidup yang menghancurkan nilai-nilai Islam. Dan itu gampang dilaksanakan: kiai-kiai, ulama-ulama, cendekiawan muslim, mahasiswa islam, jurnalis, budayawan seniman, warga ormas keislaman, anak-anak muda Islam dll – sangat gampang digiring menjadi pegawai penghancur nilai-nilai Islam.

Ummat Islam harus dipelihara keberadaannya, sebab mereka yang sangat efektif untuk mempermalukan nilai-nilai Islam. Kalau ada kelompok Muslimin yang membangun kesejukan, kebersamaan, demokratisasi, egaliterisasi, defeodalisasi, menegakkan cinta kasih social – jangan diberi ruang di pemberitaan media massa dan peta opinion making – sebab mereka ini kontra-produktif untuk proses mempermalukan nilai-nilai Islam.

Yang dibutuhkan oleh penguasa dunia adalah Muslim Ekstrem, radikal, ngamukan, berkepala batu, bodoh, terbelakang, suka mengancam, hobi mengasah pedang. Rumus baku di kampus, media massa dan internet adalah “Islam harus ekstrem”. Mosok Islam ndak ekstrem. Islam ekstrem adalah Islam ideal bagi para penguasa dunia, sebab memang itulah senjata bumerang paling ampuh untuk mengeliminir ketakutan mereka terhadap kebenaran nilai Islam.

Untuk menciptakan muslim ekstrem, maka harus dilaksanakan sejumlah kecurangan opini dan ketidakadilan di bidang-bidang politik, hukum, ekonomi dan kebudayaan. Kalau orang disakiti terus-menerus, pasti lama-lama ia akan menjadi keras dan gampang dipancing untuk mengamuk. Di setiap segmen social, di tempat kerja, di lingkungan birokrasi, di kampus, di kampung dan di mana pun saja – harus terus-menerus diciptakan pencitraan bahwa orang Islam itu suka menindas. Orang Islam itu mayoritas yang kejam. Meskipun kalangan Islam yang ditindas tapi opini yang dibangun harus sebaliknya.

Kalau ternyata dipancing-pancing dan dijelek-jelekkan kok orang-orang Islam itu masih saja bersabar, bersikap lembut dan merangkulkan kemesraan pluralisme – maka harus pada momentum-momentum yang berkala dan berirama harus diciptakan skenario seakan-akan ada tokoh ekstremis teroris – umpamanya Abu Bakar Baasyir — yang diupayakan untuk dihardik terus-menerus di media massa, dicari-carikan pasal untuk menangkap dan menghukumnya. 

 

oleh : Emha Ainun Najib

sumber : http://rusdimathari.wordpress.com/2008/03/05/islam%E2%80%A6ya-harus-ekstrem/

Menanam Bunga Perhatian

Dalam sebuah kunjungan ke sebuah panti jompo yang serba kecukupan, Ibu Teresa pernah memiliki pengalaman yang patut di simak. Kendati kehidupan dipanti jompo ini tergolong lebih dari cukup, semua orang tua yang tinggal disini, ketika duduk di ruangan untuk menonton tv, bukannya memandang TV, hampir semua mata menatap pintu masuk.

Alasan kenapa mereka menatap pintu masuk, karena semuanya berharap akan dikunjungi oleh anak, keluarga atau saudara yang bisa memberi mereka perhatian. Membaca pengalaman ini, saya teringat sedih ke Bapak saya yang tinggal di kampung sana. Di umurnya yang sudah berkepala sembilan, setiap sore setelah mandi, beliau selalu diminta dipapah dan disediakan kursi untuk duduk di pintu masuk rumah. Untuk kemudian, menatap setiap orang yang lewat di jalan satu persatu. Tetangga saya sebelah rumah di Bintaro Jaya juga demikian. Hampir setiap sore orang tua yang berjalan dibantu kursi roda ini, duduk di depan rumahnya sambil memandangi jalan. Tadinya, saya tidak tahu apa yang mereka fikirkan, tetapi ketika membaca pengalaman Ibu Teresa di atas, ada semacam perasaan berdosa terhadap Bapak saya di kampung, demikian juga dengan orang tua sebelah rumah. Rupanya, mereka amat rindu perhatian. Di umur-umur yang tidak lagi produktif ini, setangkai bunga perhatian adalah vitamin-vitamin kejiwaan yang amat dibutuhkan.

Yang jelas, siapapun Anda dan dimanapun Anda berada, tua muda, di kota maupun di desa, semua memerlukan perhatian orang lain. Sayangnya, banyak orang yang amat pelit untuk memberikan bunga perhatian buat orang lain. Tidak sedikit orang, hanya meminta untuk diberikan bunga terakhir. Padahal, bunga terakhir berharga tidak mahal. Bahkan, kita tidak membelinya. Dalam ruang lingkup yang lebih besar, alasan ekonomi biaya tinggi sebagai tameng ketidakmampuan dalam mensejaterakan karyawan, jauhnya jarak sosial antara atasan dengan bawahan, tingginya rasio antara gaji orang
di puncak dengan orang di bawah, teganya politisi membunuh orang untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, atau koruptor yang rela mengkorupsi dana untuk rakyat miskin, adalah rangkaian bukti yang bisa membawa saya pada kesimpulan, betapa langkanya orang dan pemimpin yang kemana-mana membawa setangkai bunga perhatian.

Memang, ada orang yang memiliki teori, bahwa kalau kita lahir dari masyarakat dan keluarga yang miskin perhatian, maka kitapun akan terbentuk menjadi manusia yang miskin perhatian juga. Inilah problemanya. Jika menunggu sampai masyarakat dan keluarga berubah, atau organisasi berubah baru kemudian individunya berubah, maka
kapan bisa terbentuk barisan manusia lengkap dengan bunga perhatian yang indah ?. Ibu Teresa tepat sekali ketika menulis: 'We must remember that love begins at home, and we must also remember that the future of humanity passes through the family.'
Ini berarti, bunga perhatian mesti mulai ditanam, dipupuk dan disemai di rumah Sebab, dari rumahlah bunga indah ini disebarkan. Kenapa mulai dari rumah, sebab masa depan kemanusiaan berjalan melalui institusi keluarga.

Bercermin dari sini, kadang saya dihinggapi perasaan berdosa. Sebab, semenjak merangkap menjadi eksekutif, konsultan, pembicara publik dan penulis, sering kali meninggalkan rumah pada hari Senen pagi dan pulang Jumat malam. Kendati setiap hari saya menelepon ke rumah, merayu isteri beberapa menit, bercanda dengan anak-anak, minta dibelikan oleh-oleh apa, dan seterusnya, tetapi tetap ada sesuatu yang kurang. Putera saya yang bungsu, sering kali meminta makan di pangkuan saya tatkala saya juga makan. Wika puteri semata wayang saya, semangat sekali setiap kali saya sampai di rumah. Adi, putera kedua saya, sering kali merengek ke supir agar diajak ikut menjemput saya di bandar udara. Semua itu, membuat perasaan berdosa dalam diri ini. Bagaimanakah saya akan menanam bunga perhatian dalam keluarga yang amat saya cintai ini?

Kadang, saya berharap memiliki waktu empat puluh delapan jam sehari. Sempat teringat petuah teman untuk meningkatkan kualitas bukan kuantitas hubungan dengan anak. Atau mengkompensasinya dengan materi. Akan tetapi, tetap tidak bisa memberikan kompensasi. Apapun bayarannya, setiap anak mendambakan papanya ikut bermain dengan mereka. Menaikkan layang-layang yang ingin diterbangkan. Menendang bola yang gawangnya mereka jaga. Menggambarkan kelinci dalam kertas yang anak-anak sediakan. Menjemput puteri saya di sekolah yang sedang sombong-sombongnya memamerkan papanya serta mobilnya, mengantar Adi berenang, menaikkan layang-layang, serta bermain game sepuasnya, atau mengajak Komang berjalan-jalan dan menjawab semua keingintahuannya, atau menemani isteri sehari penuh dan memenuhi keinginannya, adalah serangkaian mimpi yang jarang bisa saya penuhi. Serangkaian kegiatan, yang sebenarnya bisa membuat pohon bunga perhatian tumbuh di mana-mana di rumah.

Sering kali saya dibuat iri oleh tetangga yang amat rajin menemani anaknya naik sepeda berkeliling komplek. Ada juga yang setiap pagi memandikan anjing kesayangan sang anak, menuntun anak sampai gerbang sekolah, mengajari mereka naik sepeda. Lebih iri lagi, kalau di bandar udara saya bertemu seorang suami yang menggandeng isterinya dengan penuh kemesraan. Semacam lahan subur untuk bunga perhatian, bukankah akan membahagiaka sekali jika kita bekerja di sebuah organisasi yang diisi oleh manusia-manusia yang saling memperhatikan?

Perjalanan sebutir Debu


Dulu kau hanya debu, lalu menjelma menjadi makanan, sesuap di mulut ayahmu, sesuap di mulut ibumu, partikel dalam rahim ibumu, partikel dalam kandung mani ayahmu, ayah dan ibumu menikah, partikel itu dan partikel ini menyatu, lalu menjelma engkau dalam rahim ibumu, seperti telur dalam rahim ayam, dengan kehangatan tubuh ibumu, darahnya beredar di sekujur tubuhmu, kau terwujud, kau terbentuk bagai ayam di dalam telur, dalam eraman induknya sembilan bulan, sembilan hari, sembilan jam berlalu, ibumu merasakan kesakitan, kau retakkan dinding telur, kau menyembul, kau jatuh dalam buaian, matamu tidak dapat dapat melihat, telingamu tidak dapat mendengar, kakimu tidak mampu menyangga tubuhmu, tanganmu tidak dapat menggapai sesuatu, pikiranmu tidak dapat bekerja, kau tidak dapat memahami apapun, kau tidak mengenal siapapun, kau hanya tahu tiga hal ini :

Menyusu..., mengompol..., menangis...,
Seratus tahun kemudian, matamu tidak dapat melihat, telingamu tidak dapat mendengar, kakimu tidak dapat berjalan, pikiranmu tidak bekerja, kau tidak memahami apapun, kau tidak mengenal siapapun, kau tergolek di tempat tidur, kau hanya tahu bagaimana melakukan tiga hal ;
....! ....! ....!
Tiba-tiba kau mati, kau tenggelam dalam rahim bumi,
sekali lagi, kau menjelma debu, tiada apapun tersisa darimu,
kecuali bahwa kau tetap ada!
Manusia beredar seperti bumi, waktu, musim semi, seperti setiap sesuatu air, bunga, pohon,mentari, galaksi, semesta, yang berputar,
Kau bukan apa-apa, kau hanya debu, kau beredar, kau tidak menjadi apa-apa, kau hanya menjadi debu, apa yang tertinggal darimu?
Yang tertinggal hanyalah kesalehan yang kau kerjakan, yang tertinggal adalah setiap kebaikan yang kau kerjakan (untuk manusia).

“sebentuk Ka’bah : para peziarah mengelilingiya dari batu hitam ke batu hitam,
Lahirlah kehidupan tetumbuhan, dari lumut hingga beringin.
Dan hewan, dari mikroba hingga gajah,
Akhirnya manusia”

Ali Syari’ati (1933-1977)

Nasehat Ali bib Abi Thalib ra

Orang yang sibuk mencari ilmu dia mencari jalan ke surga,
Dan orang yang sibuk berbuat maksiat, dia mencari jalan ke neraka.

Jadilah kamu sebaik – baiknya manusia di hadapan Allah,
Dan anggaplah kamu sejelek-jelekn manusia menurut dirimu sendiri,
Dan jadilah kamu orang yang bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.

Ada tiga hal yang meningkatkan hafalan dan menyehatkan badan,
Yaitu menggosok gigi, berpuasa, dan membaca Al-Qur’an

Ada empat amal kebaikan yang sulit dilakukan, yaitu
Memberi maaf ketika sedang marah,
Bersedekah ketika sedang ditimpa kesulitan,
Menjaga perbuatan tercela ketika sedang menyendiri,
Dan menegakkan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti.

Tidak disebut shalat yang baik tanpa kekusyukan.
Tidak disebut puasa yang baik tanpa disertai menahan diri.
Tidak disebut membaca Qur’an yang baik tanpa memperhatikan isinya.
Tidak disebut berilmu yang baik tanpa disertai sikap hati-hati.
Tidak disebut berharta yang baik tanpa disertai kedermawanan.
Tidak disebut bersaudara yang baik tanpa disertai silaturahmi.
Tidak disebut nikmat yang baik tanpa dilestarikan.
Tidak disebut doa yang baik tanpa disertai keikhlasan.

Jangan sekali-kali kamu merasa malu memberi walau sedikit,
Karena tidak memberi sama sekali pasti lebih sdikit nilainya

Bersahabatlah dengan orang-orang yang yang selalu berbuat baik,
Pasti engkau menjadi salah seorang dari mereka.
Jauhilah orang-orang yang berbuat jahat,
Pasti engkau terhindar dari kejahatan mereka.

Perlakukan sahabatmu seperti perlakuanmu terhadap keluargamu

Jika kalian ditanya sesuatu yang tidak kalian ketahui,
Janganlah malu untuk menjawab “aku tidak tahu”

Jadilah kalian seorang dermawan,
Tapi jangan jadi pemboros.

Janganlah kalian malu untuk mempelajari
Sesuatu yang memang belum kalian ketahui.

Ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus kamu jaga.

Memperkosa Surti


Tak terhitung sudah berapa banyak kendaraan berlalu melewati jembatan itu. Pemuda kurus itu terus saja menatap jalanan, begitu tenang dan hening. Kopi hangat yang sudah berjam-jam lalu dipesannya pun seakan tak pernah diliriknya, walaupun aku tahu kopi itu pun tak lagi dapat disebut hangat.
Tak biasa aku melihat pemuda itu datang sendiri, sejak pertama kali aku membuka lapak di trotoar jembatan ini untuk mempertahankan kehormatanku sebagai seorang lelaki. Aku tetap harus berjualan, walaupun kata sebagian orang – orang berdasi itu berjualan di trotoar seperti aku dan puluhan orang lainnya yang bernasib sama sepertiku adalah merusak keindahan kota. Namun, aku berani beradu pendapat tentang masalah ini. Berjualan di pinggir jembatan yang masih baru dan sepi kendaraan sama sekali tidak merusak keindahan kota, melainkan mampu menghidupkan suasana dan mencegah begal-begal jalanan beraksi.
Tapi tak pentinglah jalan hidupku yang cukup rumit dan membosankan ini. Aku lebih tertarik dengan pemuda kurus yang telah lama menjadi langgananku tanpa aku tahu namanya itu. Malam ini tidak terlalu ramai seperti biasanya. Entah kenapa sorot matanya membuatku penasaran, dia nampak begitu marah, dendam, namun juga terlihat sekali sedang menahan tangis.
Yang kuingat lima hari yang lalu dia datang ke lapakku bersama teman wanitanya seperti biasa. Usia mereka kurang lebih sama. Tak ada sesuatu yang menarik awalnya, mereka hanya memesan satu gelas kopi hangat dan sepiring mie rebus instan. Persis yang aku lakukan bersama Surti dulu. Dulu sekalii..
Teringat sekali aku akan pertemuan kami yang terahir kali di bekas gardu desa yang tak lagi terpakai. Tempat biasa kami meneguk racun asmara tanpa belas kasih berdua. Dimana tak lagi kami peduli dengan apa yang orang tua biasa menyebutnya dengan ‘dosa’. Tapi kala itu sangat berbeda. Walaupun suasanya benar-benar sama, namun tak ada lagi percumbuan diantara aku dan Surti. Wanita gemuk tapi manis itu nampak begitu lain, begitu dingin. Pagutan-pagutan yang terasa di bibir ini juga terasa tidak seperti biasanya, seluruh lenggak-lenggok tubuh dan desahan nafasnya seolah-olah ingin menggambarkan kepedihan dan penyesalan.
“Surti harap mas bisa ngerti keputusan Surti mas.”
“Tapi kenapaaa!!! Bajingan kamu Sur!” tanpa sadar terlepas saja kata-kata itu. Seketika aku berharap menjadi bisu agar kalimat itu tak pernah terucap.
Dan memang benar, itulah kalimat terakhir yang kuucapkan pada Surti. Dengan penuh amarah, kujual tanah warisan ibuku kepada makelar tanah yang lebih bajingan dari siapapun. Bahkan surti. Aku tahu bajingan itu sedang tertawa terbahak-bahak karena berhasil mendapatkan tanah yang selama ini mereka inginkan dengan harga murah. Bahkan tanah itu kujual dengan harga yang lebih murah dari yang mereka tawarkan sebelumnya.
Dan beginilah keadanku sekarang,menjadi salah satu dari ratusan orang desa yang mencari peruntungan di kota terbesar kedua di negeri ini. Di kota yang sama sekali belum pernah aku injak sebelumnya ini aku bertarung melawan nasib dan Satpol PP, sambil terus mencoba melupakan hadiah terindah yang pernah Surti berikan padaku dulu, kegadisannya.
Aku mendadak ingin menjadi sutradara atas hidupku sendiri. Mungkin aku bisa memutar rekaman ke masa lalu dan kuatur ulang agar lelaki mantan TKI itu tidak pernah menemui bapak Surti. Atau aku bisa memutar ulang adeganku saat di gubuk bekas gardu agar aku bisa menikmati pelukan tubuh Surti selama-lamanya. Atau mungkin jika aku benar-benar lemah dan tak bisa melakukan itu semua, ingin saja aku tidak melihat pemuda kurus ini. Setidaknya aku tidak akan pernah lagi mengungkit-ungkit kenangan ini.
Dan....
“Heh, goblok! Lariii!!!”
Kulihat seluruh teman-temanku berlari berhamburan. Dan tanpa bisa aku mencegah, seluruh syaraf di tubuhku ini menyuruhku untuk lari sekuat tenaga. Menembus pekat malam dengan membawa apa saja yang bisa kubawa. Tidak ada lagi Surti, makelar tanah bajingan, lelaki mantan TKI, tidak juga pemuda kurus itu. Semua telah hancur, atau lebih tepatnya dihancurkan oleh kesombongan bapak-bapak Satpol PP yang dengan gagah telah memperkosa sisa-sisa kehormatanku.
Irul
Madiun, #home 31/01/11 09:18 PM

Kamis, 27 Januari 2011

Batman Dan Mbah Gendeng

“Huh, siyal, masa’ bocor lagi sih”, ujar Batman gemas sambil menendang pintu BatMobile-nya perlahan. Meskipun kesal, ia masih cukup sadar untuk tidak melampiaskannya kepada kendaraan tercintanya, yang cicilannya belum lunas itu. Dengan susah payah, ia mendorong mobilnya ke pinggir, ke sebuah tambal ban yang kebetulan berada tidak jauh dari situ.
Mbah Gendeng – Nambal Ban Sejak 1911
Begitu tulisan yang tertera di atas “bengkel” kecil yang didirikan seadanya di bawah sebuah pohon beringin besar.
“Bannya bocor ya, nak?”, tanya seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Iya, mbah”, jawab Batman lesu, “sudah kedua kalinya nih. Padahal baru sekitar 5km lalu bocor dan ditambal.”
“Hmmm…”, mbah Gendeng mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai mempersiapkan peralatannya. Bak air sabun untuk memeriksa bagian ban yang bocor, dongkrak, pompa angin, dan sebagainya. “Silahkan duduk dulu aja di kursi kayu itu, nak. Biar mbah kerjakan dulu bannya.”

45 menit berlalu, Batman mulai gak sabar. Maklum, ia lagi semangat-semangatnya untuk bangkit kembali dari keterpurukannya dan ingin segera sampai ke WTC untuk membuka gerai HP. Ditambah lagi, seekor kura-kura berseragam “Bukan Express” yang tadi disalipnya kini sudah berjalan melewati tempat ia duduk. “Masa’ Batman kalah cepet ama kura-kura”, pikir Batman dalam hati. Penasaran, ia mendekati Mbah Gendeng dan mengintip kerjanya.
“Pantesan aja lama!”, sergah Batman kasar. “Lha wong kerjanya lambat banget gini! Apa gak bisa lebih cepet lagi, mbah?!”
Mbah Gendeng meletakkan ban dalam BatMobile yang sedang ia pegang dan menoleh ke arah Batman. Tatapannya yang tajam membuat Batman secara tidak sadar mundur selangkah ke belakang. Tanpa disangka, dengan tidak kalah kerasnya, Mbah Gendeng balik bertanya, “Memangnya kamu pikir pekerjaan ini tidak penting sehingga harus dikerjakan dengan terburu-buru?”
“Memang begitu, kan? Cuman nambal ban ini, apa pentingnya? Jauh lebih penting pekerjaanku yang ke sana kemari buat nyelamatin dunia dari orang jahat! Mbah tahu kan kalo aku ini Batman?!”
“Iye, terus so what gitu loh, mau situ Superman kek, Batman kek, Barack Obama kek, SBY kek, tetep aja, jangan pernah ngeremehin pekerjaan saya!”
Batman sudah akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab, namun kakek tua itu tidak mau kalah cepat dan melanjutkan kata-katanya.
“Dengarkan baik-baik, anak muda. Coba pikir. Seandainya tadi kamu dalam perjalanan untuk menyelamatkan ribuan orang dan banmu bocor, apa bukan berarti yang saya kerjakan ini tidak sama pentingnya dengan pekerjaanmu? Dengan memperbaiki ban bocormu dengan baik dan teliti, secara tidak langsung saya suda membantu kamu menyelamatkan mereka — ribuan orang itu.”
“Tidak usah muluk-muluk. Setiap ban bocor yang saya perbaiki pasti berhasil membawa pengemudinya tiba dengan selamat sampai di rumah. Coba bayangkan apabila saya melakukannya dengan asal-asalan. Bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukan?”
“Lihat ban dalammu ini”, Mbah Gendeng menyodorkan dua buah ban dalam BatMobile yang sedang ia kerjakan. “Perhatikan ini, bekas tambalan yang dilakukan oleh penambal ban sebelumnya. Kasar dan kurang kuat rekatannya. Itu sebabnya tadi ban mobilmu bocor lagi. Masih untung tidak terjadi apa-apa. Dan ini, yang ada di kanan, adalah hasil tambalan ban yang aku lakukan. Bandingkan!”
Batman tercenung. Ia memperhatikan ban dalam pada bagian yang ditunjukkan oleh Mbah Gendeng dan ternyata memang benar, pekerjaannya kurang baik. Bahkan jauh dibandingkan hasil pekerjaan Mbah Gendeng. Padahal tadi ia cukup senang dan memberi tips lebih kepada penambal ban sebelumnya karena kerjanya hanya butuh waktu 5 menit saja.
Dengan menunduk, Batman mohon maaf kepada Mbah Gendeng dan beringsut kembali ke kursi kayu untuk menunggu. Di satu sisi, ia malu terhadap apa yang telah ia lakukan, namun di sisi lain, ia gembira karena mendapat pelajaran baru tentang hidup dan juga tentang bisnis.
“Aku pasti tidak akan kalah oleh Peter Parker”, ujar Batman dalam hati sembari tersenyum.

moral cerita/bahan renungan: "Setiap pekerjaan itu penting, jangan pernah meremehkan pekerjaan orang lain sekecil apapun itu."

sumber : http://dongengmotivasi.com/batman-dan-mbah-gendeng.htm

love network

love network
love for all